Desa Sasak Sade – Mengunjungi suatu kota atau negara tentu akan ada beberapa hal menarik yang wajib untuk ditelusuri lebih jauh. Bisa berupa kuliner khas, tempat wisata populer, hingga tradisi dan adat istiadat kota atau negara tersebut.
Sama halnya dengan Pulau Lombok. Pulau yang dijuluki Pulau Seribu Masjid ini juga menyimpan banyak adat istiadat yang menarik untuk kamu jelajahi. Apalagi jika sobat tiket tertarik dengan liburan ala wisata budaya.
Lombok menjadi salah satu tempat yang bisa kamu kunjungi untuk bisa menjelajah wisata budayanya, lho. Kuy, baca selengkapnya mengenai Desa Sasak Sade di Pulau Lombok yang masih menjalankan kehidupan tradisionalnya yang menarik ini!
Baca juga:
Cara Menuju Desa Sasak Sade

Untuk menuju Desa Sasak Sade, sobat tiket bisa menggunakan kendaraan berupa mobil atau motor dengan jarak tempuh kurang lebih 20 menit dari Bandara Internasional Lombok. Nggak jauh, kan?
Lokasi Desa Sasak Sade berada di Rembitan, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Tidak sulit kok mencari lokasi desa ini, letaknya berada di pinggir jalan besar yang menghubungkan antara Mataram dan Kuta Mandalika.
Kamu akan melihat sebuah gapura berbentuk bangunan khas Sasak dengan tulisan “Selamat Datang di Desa Sasak Sade” yang terpampang di depannya.
Oh ya, supaya lebih mudah, kamu juga bisa ikut paket One Day Tour Lombok dari To Do tiket.com lho untuk berkunjung ke Desa Sasak Sade. Pasti lebih menyenangkan, aman, dan nyaman!
Harga tiket masuk: tidak ada nominal khusus (seikhlasnya) | Pemandu: mulai dari Rp20.000 per rombongan*
Jam & hari buka: setiap hari, 08.00 – 19.00 WITA
Alamat: Rembitan, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Bar. 83573 (Cek di Google Maps)
Desa Sasak Sade, Kehidupan Tradisional yang Berdampingan dengan Kemodernan

Begitu memasuki kawasan ini, kamu pasti akan bertanya-tanya sisi tradisional apa yang ada di Desa Sasak Sade. Desa yang sudah dijadikan sebagai desa wisata sejak tahun 1989 ini justru berada di lingkup yang bisa dikatakan sudah modern. Namun, begitu melihat gapura bertuliskan Desa Sasak Sade, kamu akan melihat keunikannya.
Mulai dari pintu masuk gapura ini, para tamu akan ditemani oleh satu orang pemandu yang akan menjelaskan setiap detail Desa Sasak Sade. Namun, jangan lupa untuk memberikan uang tip ke pemandu sebesar Rp20.000* di akhir sesi ya, sobat tiket.
1. Rumah Tradisional Sasak

Saat mulai menelusuri setiap sudut di desa ini, kamu pasti akan menemukan rumah tradisional Desa Sasak yang sederhana. Pembangunannya juga sebagian besar menggunakan bahan dari alam, seperti dinding dan lantai rumah yang terbuat dari gerabah, serta atap yang terbuat dari daun alang-alang kering.
Di desa ini sebenarnya ada tiga tipe rumah tradisional yang dibedakan dari fungsinya nih, sobat tiket. Di antaranya adalah Bale Tani, Bale Bonter, dan Bale Kodong. “Bale” sendiri memiliki arti “Rumah” dalam bahasa Sasak.

Bale Tani merupakan rumah tinggal sehari-hari masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai petani. Rumah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bale dalam yang diperuntukkan sebagai tempat tidur anggota keluarga wanita, tempat melahirkan, dan dapur. Serta bale luar untuk anggota keluarga lainnya dan sebagai ruang tamu atau ruang kumpul keluarga.
Oh ya, sobat tiket tahu nggak sih tentang cara membersihkan lantai di Bale Tani yang menggunakan kotoran kerbau yang baru saja dikeluarkan? Hal ini dipercaya dapat mengendapkan debu yang menempel serta dapat mengusir nyamuk! Uniknya, hal ini nggak menimbulkan bau menyengat lho, sobat tiket.
Selain itu, ada Bale Kodong yang menjadi tempat tinggal para pengantin muda yang baru menikah atau para jompo, serta Bale Bonter yang berfungsi sebagai tempat tinggal pejabat desa. Di Bale Bonter juga sering dilakukan persidangan adat.
2. Bale Lumbung (Rumah Panen)

Bale Lumbung merupakan tempat menyimpan lumbung padi di Desa Sasak Sade. Uniknya, yang boleh mengambil padi di lumbung ini hanyalah kaum wanita karena masyarakat Sasak Sade percaya, jika kaum pria yang mengambil padi di lumbung ini akan mengalami kemandulan.
Lumbung padi ini menjadi tempat penyimpanan hasil panen masyarakat di Desa Sasak Sade, yang mana setiap lumbungnya bisa dipakai oleh 5-6 kepala keluarga. Keunikan lainnya yang bisa kamu temui dari Bale Lumbung ini adalah bangunannya yang dibuat tinggi. Hal ini untuk menghindari banjir dan juga hama tikus sehingga hasil tani tetap terjaga.
Saat ini, Bale Lumbung nggak hanya dijadikan tempat penyimpanan hasil panen, melainkan banyak masyarakat suku Sasak yang memanfaatkan bale sebagai tempat peristirahatan.
3. Tradisi Peresean dan Gendang Beleq

Hingga saat ini, suku Sasak masih melestarikan tradisinya lho, sobat tiket. Salah satunya adalah tradisi Gendang Beleq dan Peresean. Gendang Beleq merupakan alat musik tradisional suku Sasak yang berupa sebuah gendang besar.
Alunan dari gendang ini lah yang menjadikan tari Gendang Beleq semakin hidup. Namun, fungsi dari gendang ini tak hanya sebatas itu saja. Gendang beleq juga menjadi alat pengiring menuju peperangan, dan juga acara-acara adat di Lombok seperti pernikahan.

Selain itu, ada juga atraksi Peresean yang menguji keberanian. Atraksi ini sangat menarik perhatian wisatawan karena merupakan atraksi peperangan atau duel antara dua pemuda suku Sasak.
Setiap petarung memegang satu perisai dan juga satu rotan yang berfungsi untuk pertahanan dan melukai lawan. Tradisi ini juga masih sering dilakukan oleh masyarakat Sasak sebagai ritual untuk meminta hujan saat kemarau panjang. Waaah pasti seru banget kalau bisa menyaksikan secara langsung ya, sobat tiket.
4. Hasil Kerajinan Tangan

Bagi masyarakat asli Lombok, yaitu suku Sasak, menenun dan bertani adalah pekerjaan utama mereka. Bahkan, untuk wanita suku Sasak, menenun merupakan sebuah kewajiban yang juga menjadi penentu dari sudah bisa menikah atau belumnya mereka.
Kamu akan banyak menemui pondokan yang menjajakan kain-kain hasil tenunan dari wanita di desa ini. Nantinya, hasil dari penjualan ini akan dibagi rata oleh koperasi yang mengelolanya.

Nggak heran kalau harga kain ini bisa mencapai jutaan rupiah, proses pembuatan kain yang rumit dan memakan waktu yang lama jadi salah satu alasannya. Namun, kain tenun ini dijamin worth buying deh saking cantiknya!
Oh iya, sobat tiket, kamu juga akan menemukan beberapa masyarakat di desa ini yang menjual hasil kerajinan tangannya. Seperti kipas tangan dari anyaman, hingga topi anyaman dengan harga mulai dari Rp10.000*. Kamu bisa menjadikannya sebagai oleh-oleh juga, lho!
5. Menjelajah Kuliner Khas

Tentunya, berkunjung ke Desa Sasak Sade nggak lengkap tanpa mencicipi makanan khas dari desa tersebut yang juga menjadi makanan tradisional khas Lombok.
Ada berbagai macam kuliner yang bisa kamu coba, salah satunya sate rembiga. Sate ini terbuat dari daging sapi yang diberi bumbu aneka rempah kemudian disajikan dengan plecing kangkung. Berbeda dengan sate pada umumnya, kamu nggak akan menemukan bumbu kacang di hidangan sate ini.

Masih berupa hidangan sate, ada sate bulayak yang juga menjadi makanan khas Lombok. Sate olahan ayam, sapi, atau jeroan ini disajikan dengan lontong yang dililit dengan daun aren atau enau. Jangan lupa tambahkan bumbu kacang yang pedas dan mirip dengan rasa kari supaya makin nikmat!
Kuy, Kunjungi Desa Sasak Sade di Waktu Terbaiknya
Nah, setelah mengetahui informasi dan daya tarik dari Desa Sasak Sade, pasti sobat tiket makin nggak sabar dong untuk berwisata budaya ke desa ini? Eits, sebelum itu, kamu perlu catat waktu terbaiknya nih!
Walaupun kamu bisa berlibur ke Lombok kapan saja, mengunjungi Desa Sasak Sade di akhir bulan Mei hingga akhir bulan September merupakan waktu yang paling direkomendasikan.
Dalam rentang waktu tersebut, kalau kamu beruntung, kamu bisa lho menyaksikan berbagai ritual adat seperti upacara pernikahan, kelahiran, hingga atraksi Peresean dan Gendang Beleq. Seru banget, kan?
Jangan lupa untuk cek contoh itinerary 4 hari 3 malam di Lombok supaya liburan kamu makin seru!
mau ke mana? semua ada tiketnya!
*Informasi valid saat artikel ini ditulis. Harga dan ketentuan lainnya dapat berubah sewaktu-waktu.




