,

Kisah Tiga Rumah Tua dan Sejarah Panjang Tionghoa di Kampung Kapitan Palembang

Sebagai kota tertua di Indonesia, tentunya Palembang memiliki sejarah yang begitu panjang. Sejarah ini pada akhirnya tercerminkan pada berbagai tempat wisata bersejarah yang ada di kota ini. Yap, ibu kota Sumatera Selatan ini pun terkenal dengan beragam destinasi wisata yang kaya oleh budaya serta sejarah.

Menariknya, Palembang yang dijuluki “Venice of The East” ini memiliki keberagaman budaya. Salah satu yang mempunyai hubungan erat dengan Palembang adana budaya Tionghoa, lho. Jika berkunjung kemari, sobat tiket pasti bakal menemukan banyak banget tempat wisata bernuansa Tionghoa.

Kampung Kapitan, Kawasan Pecinan Palembang di Masa Lalu

Nah, kali ini yang bakal tiket.com bahas adalah Kampung Kapitan yang menjadi saksi sejarah dekatnya Bumi Sriwijaya dan Tionghoa. Penasaran seperti apa keseruan menjelajahi kawasan pecinan di masa lampau ini? Yuk simak pembahasan spesialnya di bawah ini!

1. Kampung Kapitan dan Sejarah 400 Tahun

kampung kapitan palembang
Sumbe: shutterstock.com

Palembang dan kebudayaan Tionghoa memiliki sejarah yang panjang. Maka dari itu, nggak heran deh kamu bisa melihat sentuhan nuansa tionghoa di banyak tempat. Keterikatan keduanya juga menarik disimak karena sudah berusia ratusan tahun.

Nah, kalau kamu tertarik buat mengenal sejarah Tionghoa di Palembang, ada satu tempat yang bakal sempurna buat dikunjungi. Namanya adalah Kampung Kapitan yang merupakan kampung etnis Tionghoa pertama di Palembang.

Menariknya, kampung yang berlokasi di pinggiran Sungai Musi ini menyimpan sejarah etnis Tionghoa dengan usia hampir 400 tahun, lho. Lokasi tepatnya ada di Seberang Ulu, Palembang. Meski luas kampung ini hanya sebesar 165,9 x 85,6 meter, namun sejarahnya sudah ada sejak zaman Dinasti Ming pada abad ke XIV.

Dahulu, kampung ini merupakan area perumah tempat bermukim masyarakat etnis tionghoa di Palembang. Kampung ini pun menjadi pusat melakukan perdagangan, hingga jadi pusat pemerintahan untuk wilayah Seberang Ulu di masa kolonial Belanda.

Banyak yang bertanya-tanya, kapan sih tepatnya bangsa Tiongkok di Dinasti Ming ini sampai di nusantara? Dalam sejarahnya, awal kedatangan mereka ke Palembang saat kerajaan Sriwijaya runtuh pada abad XI. Dari sanalah pemerintahan Tiongkok membentuk lembaga dagang yang salah satunya berpusat di Palembang.

Nama “Kapitan” sendiri diambil dari gelar Kapitan Cina yang disematkan pada Tjoa Ham Hin tahun 1855. kapitan cina memiliki arti Mayor Putih yang mengatur wilayah 7 Ulu saat itu. Dari nama inilah kemudian muncul istilah Kampung Kapitan yang dahulu ditinggali masyarakat Tiongkok yang tinggal di Palembang.

2. Tersembunyi Dalam Padatnya Pemukiman Pinggiran Sungai Musi

Disebutkan sebelumnya nih kalau kampung ini hanya memiliki luas sekitar 165,9 x 85,6 meter. Lokasi tepatnya ada di tengah pemukiman padat di tepi Sungai Musi yang bersebrangan langsung dengan Benteng Kuto Besak. Luas kampung yang makin mengecil ini tergerus oleh waktu dan zaman.

Meski awal mulanya Kampung Kapitan merupakan kawasan pecinan di Palembang, namun kini hanya ada dua bangunan peninggalan tahun 1800-an yang tersisa. Dua bangunan ini merupakan milik sang Kapitan sendiri. Dulu bangunan tersebut ada tiga, namun satu di antaranya menjadi milik orang dan berubah bentuk.

Kampung Kapitan awalnya dihuni keluarga besar dari nenek moyang Tjoan Ham Him yang berasal dari Provinsi Hok Kian Kabupaten Ching Chow. Rombongan keluarga besar ini datang ke Palembang pada tahun 1850. Selain keluarga, mereka juga membawa tukan masak, anak buah, serta dayang-dayangnya.

3. Eksotisme Pecinan Kampung Kapitan di Masa Lalu

kampung kapitan palembang
Sumber: shutterstock.com

Awalnya, terdapat 15 bangunan rumah panggung milik etnis Tionghoa saat masa penjajahan Belanda di kampung ini. Namun kini, jumlah rumah tersebut terus berkurang hingga hanya menyisakan dua buah rumah saja.

Menariknya, dua bangunan tersebut dibangun dengan gaya arsitektur Tionghoa yang sangat khas. Keduanya berusia lebih dari 400 tahun, dibangun dengan kayu pulay yang tahan lama. Meski pondasi bangunan rumah ini masih kokoh, sayangnya di beberapa bagian suda lapuk termakan usia.

Dua bangunan yang tersisa ini dikenal dengan sebutan rumah kayu dan rumah batu. Sesuai namanya, rumah kayu dibangun dari pondasi berbahan dasar kayu pulay. Dengan interior dan langit-langit yang juga menggunakan kayu. Rumah kayu ini berfungsi sebagai tempat ibadah sedangkan rumah batu digunakan untuk pertemuan dan pesta.

Keunikan lain, kedua bangunan rumah kapitan ini dihubungkan oleh selasar di bagian tengah rumah. Selasar ini akan dibuka saat rumah sedang mengadakan pesta atau pertemuan. Sedang untuk bentuknya, rumah ini berbentuk panggung dengan perpaduan arsitektur tradisional Palembang dan tiongkok jadi satu.

Meski termakan usia yang nggak sebentar, kedua rumah ini masih kokoh berdiri. Meskipun nggak bisa dihindari terdapat kerusakan di beberapa bagian karena umur. Di dalam rumah bersejarah tersebut, terdapat tiga benda peninggalan Kapitan Cina yang bisa dilihat.

Benda-benda itu antara lain meja abu, altar sembahyang, dan beberapa dokumentasi. Saat berkunjung tentu kamu bisa melihatnya lebih dekat. Oleh karena itu, kedua rumah ini pun dijadikan cagar budaya oleh pemerintah.

4. Kisah Masa Lalu Tiga Rumah Tua di Kampung Kapitan

Lebar dari rumah ini sekitar 24 x 50 meter, dilengkapi dengan 4 kamar besar dan 2 kamar kecil pada masing-masing rumah. Terdapat pula penjara yang berada tepat di bawah rumah tua ini. Hadir dengan kekentalan arsitektur Cina, rumah tua ini didominasi nuansa warna merah.

Beberapa lambang matahari tersebar di dalamnya. Sebuah kompas menempel tepat di pintu, menjadi perlambang bahwa nenek moyang mereka merupakan seorang pelaut, lho. Jika berkunjung ke dalam rumah tua utama, di sana terdapat tempat para leluhur pendiri Kampung Kapitan dari Dinasti Ming tahun 1300 hingga Dinasti Ching tahun 1600.

Meski pernah menjadi kawasan pecinan, namun corak arsitektur kedua bangunan ini juga disisipi oleh nuansa budaya Melayu dan Eropa-Belanda, lho. Hal ini terlihat dari bentuk rumah kapitan yang mengadopsi perpaduan ketiganya. Pilar di bagian depan dengan tengah yang menggembung terlihat dengan ciri khas bangunan Eropa.

Sedangkan bagian depan rumah ini mengambil bentuk rumah limas khas Palembang dan Melayu. Kemudian di bagian tengah rumah, terdapat ruang terbuka yang jadi ciri khas bangunan Cina. Ruang terbuka ini memiliki fungsi sebagai sumber pergantian udara dan masuknya cahaya.

5. Altar Ziarah untuk Mengenang Para Leluhur

Kampung Kapitan
Sumber: shutterstock.com

Akhirnya, kini tempat tersebut dijadikan sebuah altar ziarah bagi para etnis Tionghoa kepada sang leluhur. Ratusan dupa terlihat terbakar hingga habis di tempat peribadatan itu. Suasana sakral terasa begitu kental, seolah membawakan kita sebuah perasaan khidmat. Dalam meja altar yang jadi tempat pemujaan leluhur itu terdapat 11 abu keturunan kapiten Tjon Ham Him.

Berkunjung ke rumah kedua, selain dibuka saat ada acara, bangunan ini dijadikan juga tempat peribadatan kepada para dewa. Selain itu, terdapat potret sejarah dari para Kapiten. Terdapat sebuah buku dari Dinasti Ching yang ditinggalkan dalam rumah tua ini. Buku inilah yang jadi pedoman sejarah keturunan dari para kapiten.

Di zaman dahulu, kedua rumah ini memiliki fungsi yang berbeda. Rumah tua utama dahulunya digunakan sebagai tempat pemerintahan serta tempat menginap tamu dari luar yang malas berlayar. Sedangkan rumah kedua biasanya dijadikan tempat berkumpul keluarga dari kapiten.

Kini, kedua rumah tua ini pun dijadikan sebagai tempat tinggal para keturunan kapiten karena mereka ikut mengurus rumah ini. Meski awalnya dua rumah ini nggak layak dihuni karena kondisi yang rapuh, sejak jadi cagar budaya rumah tersebut diperbaiki meski belum sempurna.

Mengenal sejarah masa lalu etnis Tionghoa di Palembang menjadi semakin menyenangkan lewat Kampung Kapitan. Pada akhirnya, kawasan pecinan ini merupakan wujud keberagaman dan harmonisasi yang ada di Palembang.

Mengenal Lebih Dekat Sejarah Palembang Jadi Makin Seru!

Sejarah panjang Palembang dan Tionghoa memang menarik banget buat disimak. Terlebih karena hal ini pun pada akhirnya tertuang dalam banyak destinasi wisata yang ada di sana. Nah, memang nggak lengkap rasanya ke Palembang namun nggak mengunjungi wisata bersejarah seperti Kampung Kapitan ini.

Seusai menyusuri Kampung Kapitan paling asik berburu kuliner buat mengisi perut. Kuy lihat rekomendasi kuliner di Palembang berikut ini. Seru banget nih rasanya liburan ke Palembang. Nah, kalau kamu tertarik liburan kemari, yuk segera pesan tiket ke Palembang di tiket.com!