,

Mengunjungi Pulau Kemaro Palembang: Eksotisme Budaya Tionghoa dan Balutan Legenda Cinta

Palembang sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan memiliki eksotisme wisatanya tersendiri. Banyak beragam pilihan tempat wisata yang menarik banyak wisatawan. Saat ke Palembang, kamu bisa menjelajah wisata alam, religi, bahkan hingga budaya dan sejarah.

Sebagai ibu kota, Palembang sendiri dikenal dengan sejarahnya yang sangat panjang. Hal ini disebabkan, Palembang pernah menjadi pusat dari kerajaan Sriwijaya yang di masa lalu pernah mendominasi nusantara dan semenanjung Malaya pada abad ke-9.

Destinasi Wisata Favorit di Palembang: Pulau Kemaro

Sebagai kota paling tua di Indonesia, nggak heran ada banyak wisata budaya dan sejarah yang bisa dikunjungi di Palembang. Salah satunya adalah Pulau Kemaro yang melegenda sebagai destinasi wisata di Palembang. Lalu, ada apa aja sih di Pulau Kemaro ini? Yuk simak pembahasannya dari tiket.com sebelum kamu ke sana!

Kecantikan Pulau Kemaro yang Dilingkupi Aura Misterius

pulau kemaro palembang
Sumber: shutterstock.com

Ngomongin soal objek wisata di Palembang, salah satu destinasi yang wajib kamu kunjungi adalah Pulau Kemaro. Pulau yang terbentuk di tengah sungai Musi ini memiliki pesona dan aura kecantikan nan misterius.

Pulau ini terletak di dekat Kecamatan Kalidoni Palembang. Selain nuansa dan budaya Tionghoa yang lekat dengan pulau ini, Pulau Kemaro memiliki sebuah cerita menarik. Konon, pulau kecil ini menggambarkan kisah cinta Siti Fatimah dan Tan Bunn An yang begitu melegenda di sana.

Jika ingin kemari, sobat tiket harus menaiki perahu dan membelah sungai Musi, lho. Perjalanan menarik ini akan menyuguhimu pemandangan rumah-rumah terapung serta kehidupan masyarakat Palembang yang tinggal sepanjang sungai.

Sesampainya di sana, sebuah gerbang masuk dan nuansa pecinan terasa begitu pekat. Hal itu terlihat dari klenteng yang menjulang di tengah pulau dan bangunan lain. Klenteng ini juga sering digunakan untuk sembahyang sebagian besar warga Palembang keturunan Tionghoa. Hal ini juga menjadi sebuah bukti bahwa budaya Tionghoa berkembang dengan baik di Palembang.

Fakta menarik lainnya, pulau ini seolah-olah terapung di sungai Musi. Pulau ini juga selalu kering dan nggak ada air bahkan air sungai sedang pasang. Oleh karena itu masyarakat setempat menamai pulau ini dengan nama Kemaro.

Suasana di pulau ini terasa tenang dan hening. Namun terkadang kepulan asap pabrik-pabrik yang ada di sekitar pulau terbawa angin dan terasa mengganggu.

Antara Legenda, Kisah Cinta, dan Sejarah Tionghoa

Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang mengunjungi pulau ini, terutama mereka yang beretnis Tionghoa. Banyak pula pasangan muda yang mengunjungi pulau ini dengan membawa kepercayaan kalau hubungan mereka langgeng setelah berlibur dari sana.

Selain suasana merah kuning khas Tionghoa dan bangunan pecinan, sebuah legenda berkaitan dengan pulau ini juga menarik banyak pengunjung. Pulau Kemaro dan legenda soal kisah cinta Siti Fatimah dan Tan Bun Ann menjadi sebuah magnet bagi orang luar.

pulau kemaro palembang
Sumber: shutterstock.com

Dikisahkan, legenda ini berpusat pada kisah cinta Siti Fatimah yang merupakan keturunan Raja Sriwijaya dan Tan Bun Ann yang merupakan putra raja Tionghoa. Dalam kisah, Siti Fatimah sendiri menganut agama Islam dan Tan Bunn Ann sendiri menganut agama Budha.

Perbedaan agama dan etnis keduanya nggak jadi penghalang mereka menjalin kisah cinta hingga ke jenjang pernikahan. Setelah menikah, keduanya bahkan sempat berlayar ke negara asal Tan Bun Ann untuk mengambil hadiah dari Kerajaan Tionghoa.

Namun, setelah sampai di Palembang, Tan Bun Ann malam membuang hadiah tersebut ke sungai Musi. Padahal dalam peti hadiah tersebut terdapat bongkahan emas yang baru ia ketahui setelah tercecer. Merasa bersalah telah berprasangka buruk dan membuangnya, Tan pun terjun ke dalam sungai untuk mengambil emas tersebut.

Tan Bun Ann pun berpesan jika dia tidak segera muncul ke permukaan maka akan ada gundukan tanah di dekat tempatnya terjun ke sungai. Lokasi tepatnya ia terjun ternyata di Pulau Kemaro.

Melihat sang suami tak kembali, Siti Fatimah pun ikut terjun menyelamatkan suaminya. Namun, tubuhnya pun tak terlihat. Akhirnya, dua pengawal ikut terjun ke Sungai Musi. Pada akhirnya, tubuh keempat orang tersebut tidak pernah muncul ke permukaan kembali. Masyarakat pun percaya jika gundukan tanah yang tiba-tiba muncul di Pulau Kemaro merupakan makam mereka.

Makam keempat orang tersebut kini terdapat di dalam kelenteng Pulau Kemaro, lho. Berkat legenda ini, Pulau Kemaro makin dikenal banyak orang. Akhirnya, pulau ini direnovasi jadi semakin cantik dengan bangunan yang didominasi warna kesejahteraan etnis Tionghoa yakni merah dan kuning.

Kecantikan Pagoda dan Pohon Cinta

pulau kemaro palembang
Sumber: shutterstock.com

Daya tarik terbesar dari pulau ini adalah sebuah Pagoda berlantai 9 yang merupakan bagian dari klenteng. Klenteng bernama Hok Tjing Rio ini pun menjadi primadona di Pulau Kemaro. Pasalnya, klenteng ini berumur cukup tua dan dibangun pada tahun 1962. Klenteng ini juga dikenal dengan nama klenteng “Kwan Im”, lho.

Selain dikunjungi untuk keperluan wisata, biasanya pulau Kemaro ini menjadi tujuan beribadah para pemeluk agama Budha. Selain dipakai untuk ibadah, klenteng ini juga sering digunakan khususnya saat Imlek dan Cap Go Meh tiba.

Pagoda berlantai 9 ini dibangun pada tahun 2006. wisatawan juga bisa menaiki pagoda tersebut hingga ke lantai tertinggi dan menikmati pemandangan seputar Pulau Kemaro. Saat perayaan imlek, ruangan dalam pagoda ini bisa digunakan untuk menginap peserta yang mengisi acara di Festival Imlek.

Selain itu, kamu juga bisa menjelajahi pagoda ini buat mencari spot berfoto karena bangunannya yang unik dan cantik.

Di depan klenteng Kwan Im, menjadi lokasi tepatnya makam saudagar Tan Bun Ann dan Siti Fatimah yang melegenda tersebut bersemayam. Terdapat pula batu yang menuliskan sekelumit kisah tentang Tan Bun An dan Siti Fatimah.

Selain klenteng di tengah pulau tersebut, di pulau Kemaro ini terdapat juga pohon cinta. Pohon ini juga terkenal akan ceritanya, konon jika sepasang muda mudi menuliskan namanya di sana, akan berakhir di pelaminan. Ada yang tertarik ke sini sama pasangan?

Rute dan Cara ke Pulau Kemaro

Seperti yang sudah disebutkan, Pulau Kemaro ini berada di tengah Sungai Musi, tidak jauh dari Jembatan Ampera. Kamu bakal menempuh perjalanan kurang lebih selama 1 jam dari jembatan Ampera menggunakan kapal. Kapal ini biasanya bisa dinaiki dari dermaga yang ada di Jembatan Ampera.

Harga sewa perahu ini berkisar antara Rp50.000 – Rp70.000. selain kapal ini, kamu juga bisa menyewa perahu motor yang ada di Benteng Kuto Besak yang ada di bawah Jembatan Ampera. Ada banyak pilihan, tinggal kamu sesuaikan nih sama budget. Waktu tempuhnya akan memakan waktu sekitar 20 menit jika menggunakan kapal dari Dermaga Point Kuto Besak ini.

Mengenal Sisi Lain Palembang Lewat Pulau Kemaro

Palembang dikenal dengan akulturasi budaya Tionghoanya yang kental. Jika kamu tertarik mengenal sisi ini lebih dalam, Pulau Kemaro bisa jadi tujuan yang sempurna. Nah, selepas mengunjungi pulau di tengah sungai Musi ini, kamu bisa mampir ke tempat wisata malam Palembang.

Seru kan liburan di kota ini? Kuy pesan tiket pesawat ke Palembang di tiket.com, ada banyak promo menanti!