,

Pesona Tempo Dulu di Jalan Braga, Sungguh Mengesankan!

Apa tujuan sobat tiket ke Bandung? Menikmati kuliner, berbelanja, atau berwisata alam? Kamu perlu lebih menjelajahi kota ini lewat pesona tempo dulu di Jalan Braga sebagai pelengkap liburan kamu.

Dahulu Jalan Braga hanya dihuni oleh beberapa toko yang mayoritas pedagang Belanda. Setelah mengalami perkembangan zaman, tempat ini berubah menjadi objek wisata. Tertarik mengetahui suasana di jalan Braga ini? Simak ulasan di bawah ini!

Sejarah Jalan Braga

Sumber: Shutterstock

Pada tahun 1900, Jalan Braga adalah perlintasan kecil dekat permukiman sepi. Hal tersebut lantas membuat tempat ini mendapat julukan Jalan Culik atau Jalan Pedati. Beberapa dekade kemudian, pengusaha-pengusaha Belanda mulai membangun berbagai bisnis di sini.

Sekitar tahun 1920 sampai 1930, banyak ditemukan butik dengan model pakaian bergaya Prancis, sehingga memunculkan julukan lain yaitu Paris Van Java. Setelah penjajahan Belanda selesai, penamaan tersebut menjadi identitas Bandung sampai sekarang. Sektor mode, bisnis, dan pariwisata pun semakin berkembang.

Daya Tarik Jalan Braga

Sumber: Shutterstock

Rute Jalan Braga lurus memanjang mulai Jalan Asia Afrika sampai perempatan Jalan Wastukencana. Dengan panjang sekitar 800 meter, sobat tiket sangat disarankan untuk melintasi tempat ini dengan berjalan kaki, sehingga kegiatan melihat-lihat menjadi lebih seru.

Jalan Braga terbuat dari batu andesit, sementara kedua sisi trotoar bermaterial batu granit. Di sini sobat tiket akan menemui pelukis sedang memamerkan karya mereka untuk diapresiasi. Namun, tidak jarang pengunjung melihat titik ini sebagai latar foto berseni. Kalau sobat tiket berkunjung, abadikan momen kamu juga, ya!

Pesona Jalan Braga sebagai wisata budaya semakin terasa berkat deretan toko buku tua dan barang antik. Tidak sampai di situ saja, Sebagai daya tarik lebih, di sini juga terdapat restoran serta kafe dengan pertunjukan live music. Bahkan, setiap tahun ada acara seru bernama Braga Festival dan Braga Culinary Night yang diselenggarakan dua minggu sekali. Wah, jangan sampai terlewat nih, sobat tiket!

Lokasi Jalan Braga sangatlah strategis, berada di pusat kota Bandung. Menawarkan keindahan bersejarah melalui sudut-sudut cantik, membuat sobat tiket tidak akan rugi jika berkunjung ke sini.

Gedung-Gedung Bersejarah di Jalan Braga

Saat Belanda masih menguasai Indonesia, Jalan Braga ditetapkan sebagai De meest Europeesche Winkelstraat van Indie alias kawasan belanja paling bergengsi di Hindia Belanda. Semua bangunan pun harus dibangun dengan gaya arsitektur Eropa sebagai bentuk kebijakan.

Sebagian besar bangunan tersebut masih bisa sobat tiket jumpai sampai sekarang dan menjadi cagar budaya dilindungi. Tidak hanya bernilai sebagai objek saja, namun dari segi sejarah pun menarik untuk diikuti. Ini dia gedung-gedung bersejarah di Jalan Braga:

1. Gedung De Vries

Gedung ini dibangun pada akhir abad ke-19 oleh tuan M. Klass de Vries. Berfungsi sebagai toko serbaguna, membuat dokter Schattenker menjadi pelanggan tetap di sana. Lelaki tersebut merupakan paramedis pertama di Bandung.

Toko De Vries berlokasi di Jalan Raya Pos sebelah utara alun-alun, lalu dipindahkan ke Jalan Braga. Pada tahun 1909 dan 1920, bangunan ini direnovasi dengan arsitektur bergaya Klasik Eropa bermenara di pojok utara sisi timur.

2. Gedung Merdeka

Menghadap ke Jalan Asia Afrika, gedung ini dibangun tahun 1895 dengan nama asli Societeit Concordia. Setelah direnovasi sebanyak dua kali, Konferensi Asia Afrika pun diselenggarakan di sini.

Gedung Merdeka sekarang berfungsi sebagai museum tempat menyimpan segala hal berhubungan dengan KAA dan visual mengenai peristiwa bersejarah ini. Kamu bisa berkunjung ke sini karena terbuka untuk umum.

3. Apotek Kimia Farma

Dulu fungsi bangunan ini adalah bank bernama N.I. Escompto Mij. Setelah kepemilikan jatuh ke N.V. Chemicalienhandel Rathkamp & Co, cikal bakal perusahaan obat pun tumbuh subur. Pihak lain yang terlibat dalam usaha tersebut adalah naturalis asal Jerman bernama Frans Wilhem Junghuhn yang memperkenalkan kulit kina di Indonesia.

4. Gedung De Majestic

De Majestic adalah gedung bioskop dengan desain unik. Sekilas, menyerupai bentuk kaleng biskuit dengan hiasan berupa gambar Batara Kala di pintu masuk. Salah satu tokoh pewayangan tersebut dipercaya mampu menolak pengaruh buruk dari luar.

Awalnya, Gedung De Majestic menampilkan sajian orkes mini dengan seorang narator yang mengiringi film bisu. Kemudian, gedung ini beralih fungsi sebagai tempat pertunjukan seni dan budaya, seperti penampilan Ibing Penca Kacapi Suling.

5. Bank BJB

Tidak berbeda dari sebelumnya, fungsi gedung ini tetaplah sama sebagai bank, hanya saja berganti nama dari DENIS menjadi BJB. Salah satu pendiri lembaga keuangan ini adalah Ru Bosscha, seorang pengusaha perkebunan teh berkebangsaan Belanda. Ia dikenal peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi saat itu.

Pada bagian depan bangunan, terdapat stilasi (karya seni 2D atau 3D) Bandung Lautan Api untuk mengenang peristiwa bersejarah. Sementara itu, gaya bangunan menggunakan konsep art deco menyerupai Hotel Savoy Homann, karena dikerjakan oleh satu arsitek.

6. Gedung Sarinah

Gedung ini merupakan pusat mode saat pemerintahan Hindia Belanda dengan nama awal Onderling Belang. Tahun 1960, Bung Karno sedang gencar menggalakkan nasionalisasi, sehingga berubah menjadi Sarinah.

Tahun 2015, gedung ini diratakan dengan tanah untuk pembangunan hotel. Kendati demikian, bagian muka bangunan dibiarkan utuh sebagai upaya mempertahankan peninggalan bersejarah.

7. LKBN Antara

Gedung Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara memiliki keunikan bentuk melengkung mengikuti kelokan jalan dengan warna cat kuning cerah. Lantai dasar bangunan ini pernah difungsikan sebagai butik dan rumah makan. Menurut Perda nomor 19 tahun 2009, gedung ini merupakan cagar budaya yang harus dilindungi.

8. Centre Point

Gedung ini berada tepat di sudut belokan Jalan Braga menuju Jalan Suniaraja. Dahulu berfungsi sebagai toko alat musik Naessens & Co, tetapi sekarang beralih menjadi penyedia peralatan olahraga. Kalau sobat tiket kebetulan ingin membeli produk tersebut saat berkunjung ke Jalan Braga, kamu bisa menemukan merek-merek terkenal.

9. Gedung Landmark

Gaya bangunan gedung ini memadukan arsitektur modern Eropa dan Indonesia. Konsep tersebut ditunjukkan melalui tampilan art deco dan ukiran candi serta hiasan berupa sosok Batara Kala.

Bangunan ini pernah berfungsi sebagai toko buku dan percetakan, kemudian beralih menjadi gedung serba guna setelah cukup lama terbengkalai. Setiap seminggu sekali, di sini juga dijadikan tempat pameran buku dan komputer.

Waktu Kunjungan Terbaik

Sumber: Shutterstock

Malam hari adalah waktu kunjungan terbaik ke Jalan Braga. Apalagi, ketika sedang ada acara di sini. Kemeriahan tempat ini akan menjadikan jalan-jalan sobat tiket lebih menyenangkan sambil diterangi cahaya lampu dari ruko-ruko di sekitar sini.

Siang hari tidak kalah menarik lho, sobat tiket. Cahaya matahari yang menyorot lukisan-lukisan di pinggir jalan akan memancarkan atmosfer menyenangkan. Bagaimana saat akhir pekan? Biasanya, restoran-restoran di sini akan memberikan hiburan berupa live music pada pengunjung. Wah, jangan sampai dilewatkan, ya!

Ke Bandung? Jelajahi Wisata Budaya Lain!

Pesona tempo dulu di Jalan Braga memang dapat membuat jalan-jalan sobat tiket semakin menyenangkan. Kalau kamu memiliki waktu lebih, Bandung masih menawarkan wisata budaya tempo dulu lainnya yang tidak kalah untuk dikunjungi.

Ingin mencari hotel selama liburan di Bandung? Pakai saja tiket.com untuk pemesanan, ya. Selain anti ribet, kamu bisa menemukan berbagai promo menarik untuk liburan ke Kota Kembang ini. Selamat bernostalgia, sobat tiket!