Sumber: Shutterstock.com

,

Wisata Sejarah ke Monumen Korban 40.000 Jiwa di Makassar, Kisah Kelam Perjuangan Bangsa

Monumen Korban 40.000 Jiwa Makassar – Sobat tiket, pernah mendengar tentang dark tourism? Dark tourism atau yang juga dikenal sebagai wisata kelam/ wisata bencana sudah menjadi tren pariwisata terbaru dalam kurun waktu belakangan ini.

Konsep dark tourism ini pertama kali dikenalkan oleh Profesor Malcolm Foley dan Profesor John Lennon. Dalam buku mereka yang berjudul “Dark Tourism The Attraction of Death and Disaster” pada tahun 2000, keduanya memaparkan definisi wisata kelam.

Dark tourism dipaparkan sebagai bentuk pariwisata yang bersangkut-pautan dengan sisi gelap aksi manusia. Contohnya seperti bencana, perang dan kematian. Yang menjadi obyek wisatanya adalah monumen, museum, hingga tempat kejadian yang menjadi basis dari suatu insiden atau malapetaka kelam tersebut.

Apa tujuannya? Pada dasarnya dark tourism ini bertujuan untuk mensyukuri hidup dari sisi spiritualitas. Wisata kelam ini juga dimaksudkan agar orang-orang bisa lebih memahami hikmah dan pembelajaran dari terjadinya suatu bencana.

Diharapkan, para turis yang berkunjung dapat tergugah untuk mengantisipasi, jika sewaktu-waktu terjadi kemungkinan peristiwa serupa. Entah itu di daerahnya atau di wilayah lain.

Menguak Sejarah dari Monumen Korban 40.000 Jiwa di Makassar

Di kalangan internasional, sejumlah objek wisata bencana terus ramai dikunjungi turis dari berbagai belahan dunia. Sebut saja seperti reruntuhan bangunan di Pompeii yang terkubur oleh letusan Gunung Vesuvius di Italia.

Kemudian ada juga area Chernobyl di Ukraina yang terpapar nuklir, Kamp Holocaust, Hiroshima Peace Museum (bom Hiroshima dan Nagasaki di Jepang), Penjara Alcatraz di Amerika Serikat, hingga Monumen Nasional dan Museum 11 September di New York.

Di dalam negeri sendiri, terdapat banyak obyek pariwisata bencana yang dapat disambangi. Salah satunya mencakup Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh, Bunker Kaliadem yang menjadi saksi bisu aktivitas Gunung Merapi, spot area Padang Lumpur Lapindo di Sidoarjo, hingga Monumen Korban 40.000 Jiwa di Makassar.

Bagaimana kisah monumen bersejarah yang terdapat di sudut Kota Makassar ini? Bencana apa yang tersembunyi di baliknya dan menunggu untuk terkuak?

Menurut penuturan warga setempat, jalan yang dinamakan Korban 40.000 Jiwa ini ialah lokasi dari pemakaman warga Makassar yang dibantai oleh penjajah Belanda. Saat itu, kolonial Belanda dipimpin oleh Kapten Raymond Pierre Paul Westerling di tahun 1946-1947.

Pembantaian Kejam Rakyat Sipil Tak Bersalah

Kapten Westerling yang terkenal keji ini telah membantai banyak warga sipil tak bersalah. Selama operasi militer Counter Insurgency, Westerling bersama pasukannya melakukan penumpasan terhadap pribumi yang menurutnya telah memberontak kepada Belanda.

Untuk melancarkan tindakannya, pihak Westerling telah mendata nama-nama penduduk yang ditudingnya sebagai ekstremis, penjahat, perampok dan pembunuh di antara rakyat. Padahal pada kenyataannya,

Sweeping terjadi di Bulan Desember. Desa demi desa digeledah dan rakyat sipil tak bersalah dikumpulkan, hanya untuk berakhir dieksekusi di tangan penjajah. Penyisiran ini terus berlangsung ke tiap daerah di Makassar bahkan hingga Bulan Februari.

Berapa Korban Jiwa yang Sesungguhnya?

Hingga kini, sesungguhnya masih tak jelas berapa persisnya korban jiwa yang tewas akibat keganasan Westerling. Menurut hasil pemeriksaan Pemerintah Belanda, korban disinyalir mencapai angka 3.000.

Sedangkan menurut Westerling, korban aksi terornya yang disebut contra-guerilla ini ‘hanya’ 600 orang rakyat saja. Sementara itu, pasukan Angkatan Darat menyebut korban yang tewas sekitar 1.700 orang. Sementara Anhar Gonggong mengungkap korban mencapai 10.000 orang.

Sedangkan berdasarkan sejumlah literasi, Abdul Kahar Muzakkar, pendiri Tentara Islam Indonesia di Sulawesi Selatan menyebut jumlah korban menjadi 44.000 demi untuk membangkitkan rasa empati dan bela nusa bangsa secara patriotik dari seluruh rakyat Indonesia.

Genosida dan Kejahatan Atas Kemanusiaan

Sebenarnya, pembantaian etnis atau genosida dan kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity) ini masih dapat diadukan sekarang—mengingat tak ada istilah kadaluwarsa untuk kategori genocide.

Bencana pembantaian ini bisa diadukan ke International Criminal Court (ICC) di Den Haag, Belanda. Namun di pengujung tahun 2013 lalu, melalui Duta Besar di Jakarta, Belanda telah menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian tersebut.

Tak hanya itu, Pemerintah Belanda juga telah memberikan kompensasi bagi 10 janda yang suaminya menjadi korban tewas dalam insiden tersebut. Masing-masing janda diberi kompensasi sebesar Rp 20 ribu Euro (sekitar Rp 300 juta).

Sementara itu, Edward L Poelinggomang selaku Sejarawan dari Universitas Hasanuddin (Unhas) mengatakan, Kahar Muzakkar mengungkapkan angka 40.000 bukan tanpa alasan kuat. Ia menegaskannya agar dunia internasional tergugah untuk membantu Indonesia menggugat Belanda yang telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) ketika itu.

“Jadi monumen dan nama jalan itu sebenarnya tidak mencapai jumlah angka itu (40.000). Namun angka itu memiliki dampak yang luar biasa sekali dan kata 40.000 itu merupakan angka yang diucapkan oleh Kahar Muzakkar untuk menggugah dunia internasional sebagai upaya untuk menggugat Belanda karena ada pelanggaran HAM yang telah dilakukan saat itu,” bebernya dalam wawancara bersama salah satu media nasional Tanah Air.

Monumen Korban 40.000 Jiwa

Kawasan ini terletak di Makassar bagian Utara, tepatnya di jalan dengan nama yang sama. Terdapat sebuah taman yang tertata rapi di sudutnya. Sebuah pendopo sederhana bertuliskan “Monumen Korban 40.000 Jiwa Sulawesi Selatan” dibangun di dalamnya.

Pada dinding monumen, terdapat relief panjang seperti mural yang menarik perhatian. Terlebih, sebuah patung pria dengan kaki yang teramputasi dan hanya memiliki satu lengan seolah menggambarkan betapa mengerikannya insiden berdarah yang diakibatkan oleh Westerling saat itu.

Alamat: Jl. Korban 40000 Jiwa, Wala-Walaya, La’latang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90214.

Jam operasional: Buka setiap hari, pukul 06.00 – 17.30 WITA.

Harga tiket: Gratis.

Manfaat Berwisata Sejarah ke Tempat Bencana

Dark tourism dan wisata sejarah ke tempat bencana, bermanfaatkah? Tentu saja, sobat tiket. Terlepas dari sensasi ngeri dan tak nyaman yang mungkin akan kamu rasakan saat menyambangi obyek wisata bencana, namun terdapat banyak hikmah positif yang dapat dipetik.

Dengan berwisata kelam ke Monumen 40.000 Jiwa ini, contohnya, kamu bisa menambah luas wawasan dan pengetahuan seputar penjajahan kolonial Belanda di Sulawesi Selatan. Selain bersifat edukatif, kamu pun bisa memaknai perjalanan wisata kali ini dengan secara lebih mendalam dan spiritual.

Mengunjungi tempat wisata ini dapat membantu melestarikan sejarah perjuangan bangsa serta menumbuhkan kembali semangat patriotisme yang ada di dalam diri. Bahkan, kamu bisa lebih memaknai dan mensyukuri arti dari kemerdekaan Bangsa RI saat ini.

Dengan semakin memahami kejadian sejarah di masa lalu, bukan tak mungkin kamu jadi lebih terpacu untuk mensyukuri kesehatan dan apa yang kamu punya saat ini. Kamu jadi lebih aware untuk menghargai hidup dan present moment, di setiap napas yang berembus.

Dan jika sudah begitu, bukan tak mungkin kamu jadi terinspirasi untuk ikut tergerak. Kamu jadi semakin bersemangat untuk mengangkat citra bangsa melalui berbagai karya dan aktualisasi diri.

Bagi kamu yang penasaran berkunjung ke sini, yuk pesan tiket pesawat ke Makassar via tiket.com sekarang. Jangan lupa install juga aplikasinya langsung dari ponselmu untuk pengalaman jalan-jalan yang lebih mudah, praktis dan menyenangkan.

Tertarik untuk bertualang di Makassar lebih lanjut? Kamu bisa Bermain ke Taman Maccini Sombala, Banyak Aktivitas Seru Bisa Kamu Lakukan di Sini dan selamat menjelajahi berbagai obyek wisata dalam negeri!