,

Menyusuri Perkampungan Arab Nusantara

Keragaman budaya di Indonesia terjadi karena inkulturasi beberapa suku bangsa yang masuk ke Indonesia. Selain kebudayaan lokal, kebudayaan Tionghoa dan Timur Tengah juga mewarnai Nusantara.

Salah satu bukti budaya asing yang melebur dan menjadi kekhasan suatu daerah adalah adanya sebutan kampung Arab di berbagai kota di Indonesia. Kampung Arab adalah sebutan untuk sebuah wilayah yang banyak dihuni oleh orang-orang keturunan Arab dan negara Timur Tengah lain.

Tak pelak, kebudayaan Arab kental terasa di sana. Mulai dari kebiasaan sehari-hari, bahasa, makanan, ritual, sampai corak arsitektur juga sangat bernuansa Timur Tengah. Bagi yang ingin merasakan suasana bulan Ramadhan di tengah budaya Timur Tengah sembari menikmati santapan buka puasa dengan takjil yang khas, tidak ada salahnya mencoba berwisata ke beberapa Kampung Arab yang ada di Indonesia. Berikut beberapa Kampung Arab yang populer:

1. Kampung Arab Pekojan, Jakarta Barat

Pekojan termasuk salah satu daerah yang masih banyak terdapat cagar budaya peninggalan masa lampau. Bukan hanya budaya Arab, namun juga kebudayaan India dan Tionghoa kental di sini. Nama “Pekojan” berasal dari kata “khoja”, istilah yang masa itu digunakan untuk menyebut penduduk keturunan India yang beragama Islam.

Pada era Kolonial Belanda, Pekojan ditetapkan sebagai Kampung Arab, karena menjadi tempat untuk menampung imigran dari Hadramaut (Yaman Selatan). Dari Pekojan inilah menyebar beberapa Kampung Arab di daerah Jakarta, seperti di Krukut dan Sawah Besar, Tanah Abang, dan Kwitang.

Anda juga bisa berwisata cagar budaya religius di sini. Terdapat sebuah masjid kuno yang dibangun pada 1648 oleh para muslim India, yang disebut Masjid Al-Anshsor. Ada juga Masjid Kampung Baru yang dibangun pada pertengahan abad ke-18. Masjid ini masih menjadi tujuan salat Id pada Hari Raya Idul Fitri oleh warga keturunan India beragama muslim yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya.

Sedangkan peninggalan muslim keturunan Arab ada Masjid Langgar Tinggi yang dibangun pada abad ke-18. Tak jauh dari situ terdapat Masjid An-Nawier, yang pernah diperluas pada 1920-an oleh Abdullah bin Husein Alaydrus, yang juga berperan memasok senjata untuk pejuang Aceh pada Perang Aceh (1873-1903).

Masih di daerah yang sama, terdapat Masjid Zawiah yang dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas. Beberapa bangunan berarsitektur Moor, sebutan bagi muslim India dan Timur Tengah, masih bisa disaksikan di tempat ini.

Saat ini, mayoritas penduduk Pekojan adalah keturunan Tionghoa. Namun demikian, kerukunan antaretnis sungguh terjalin erat sejak lama. Pekojan pernah dijadikan tempat percontohan pembauran antaretnis pada 1986 oleh Walikota Jakarta saat itu.

Kuliner khas Timur Tengah juga bisa didapatkan di sini. Makanan seperti gulai kari kambing, roti jala, kue ka’ak, bisa ditemukan di sini, siap dinikmati untuk santapan berbuka puasa, diiringi iringan musik khas Timur Tengah, ciamik!

2. Kawasan Sunan Ampel Surabaya

Kawasan Ampel terletak di Jalan Ampel Suci 45 dan Jl Ampel Masjid 53 sekitar 10 km dari Kota Surabaya. Di daerah inilah Sunan Ampel menyebarkan agama Islam pada abad ke-15. Penduduk lokal Surabay dan pedagang dari Timur Tengah ikut dalam pengajaran agama oleh Sunan Ampel. Karena itu, daerah ini banyak didiami oleh warga keturunan Arab, di sekitar makam Sunan Ampel yang ada di sini. Jadilah, kawasan ini dikenal dengan nama Kampung Arab sampai sekarang.

Tujuan utama orang datang ke kawasan ini adalah berziarah ke makam Sunan Ampel. Di sepanjang jalan, banyak dijajakan kebutuhan peziarah dan wisatawan. Ada minyak wangi, busana muslim, dan perlengkapan ziarah lainnya.

Karena termasuk kampung kuno selain Kampung Bubutan dan Kampung Pecinan, di Kawasan Ampel ini banyak terdapat bangunan tua. Beberapa di antaranya dibangun sekitar tahun 1810-an. Wilayah ini tepat disebut Kampung Arab, karena sekitar 60% warganya adalah keturunan Arab. Sisanya adalah warga keturunan campuran, seperti Jawa, Madura, dan Tionghoa.

Selain bisa menikmati keindahan cagar budaya, di kampung ini para pengunjung bisa menikmati kelezatan makanan khas Timur Tengah dan keragaman budaya dan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Makanan khas seperti nasi kebuli, roti maryam, sambosa, bubur gandum, dan bubur harizah, bisa dinikmati di sini.

Saat bulan Ramadan, suasana di Kampung Arab menjadi semakin meriah. Anda bisa berburu berbagai macam menu buka puasa di pasarnya. Jangan lupa berbelanja busana muslim dengan motif dan corak ala Timur Tengah.

3. Kampong Assegaf, Palembang

Kampung ini berdiri sejak 1900-an, yang dihuni oleh keturunan Alhabib Alwi bin Assegaf. Maka itu tak heran kalau kampung ini disebut juga Kampong Arab. Kebanyakan adalah keturunan arab dari Hadramaut yang terletak di daerah pesisir jazirah Arab bagian selatan atau Yaman.

Kampung yang secara administratif terletak di Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Plaju, Palembang, ini menjaga tradisinya dengan ketat. Kampung terapung ini menjadi kawasan wisata budaya karena banyak peninggalan bangunan kuno di sini. Bangunan berusia ratusan tahun masih dirawat dengan baik oleh warga setempat.

Karena berada di tepian Sungai Musi, dari perkampungan ini bisa juga disaksikan kelap-kelip lampu pabrik PT Pusri dan kelenteng megah di tengah Pulau Kemaro, menyeruak dari antara rimbunan pohon yang hijau.

Di antara bangunan kuno yang banyak terdapat di sana, Ada dua bangunan yang menyolok, yaitu pabrik balok es terbesar dan tertua di Sumatera Selatan, berdiri sejak 1929 dan masih beroperasi sampai hari ini. Satu lagi adalah sebuah rumah singgah yang pernah didiami oleh Ratu Juliana dari Belanda pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Mau berbuka puasa di pinggiran Sungai Musi, jangan khawatir! Banyak sekali jajanan khas Sumatera Selatan dijajakan di sekitar sini.

Mulailah perjalanan religi Tadabur Alam Anda bersama Tiket.com