,

Serunya Menapaki 3 Bangunan Kuno di Palembang, Bisa Wisata Budaya dan Sejarah!

Bangunan kuno di PalembangSiapa yang tak kenal dengan Kota Palembang. Tak hanya menjadi salah satu kota terbesar di Indonesia, Palembang juga menjadi kota paling besar kedua di Sumatera, setelah Medan. Menurut catatan sejarah, Palembang merupakan salah satu Kota Tua di negara kita.

Dahulu kala, Palembang adalah ibu kota dari kerajaan bahari Buddha terbesar di Asia Tenggara. Saat itu, Kerajaan Sriwijaya mendominasi Nusantara serta Semenanjung Malaya. Dan di abad ke-9 inilah Kota Palembang dikenal dengan nama Bumi Sriwijaya.

Dari temuan prasasti Kedukan Bukit di sebelah barat Palembang, tepatnya di Bukit Siguntang, diketahui bahwa Kota Palembang sudah terbentuk sejak lama. Rupanya, Palembang resmi berstatus sebagai kota sejak tanggal 16 Juni 688 Masehi. Hal ini menjadikan Palembang sebagai kota tertua yang ada di Indonesia.

Bangsa Indonesia telah melalui perjalanan panjang dalam banyak masa. Mulai dari berhasil bertahan di zaman purba hingga memasuki zaman kerajaan, lalu harus berjuang untuk melewati zaman penjajahan sampai akhirnya merdeka.

Wisata Sejarah yang Seru di Bumi Sriwijaya 

Semua periode masa mengandung nilai sejarah yang berbeda dan sarat makna. Menapaki berbagai situs heritage dapat membuka wawasan kita mengenai sejarah dan budaya. Selain itu kita juga jadi terpacu untuk lebih menghargai perjuangan bangsa dan memupuk rasa cinta tanah air.

Dengan begitu, kita pun jadi semakin kuat sebagai bangsa dan tak mudah tergoyahkan oleh konflik yang ada. Sebaliknya, kita jadi terpanggil untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Nah, sebagai kota tertua, tak heran kan, sobat tiket, jika terdapat banyak peninggalan sejarah dan bangunan kuno di dalamnya. Namun berbagai bentuk peninggalan ini bukan hanya sekadar bangunan tak bernilai yang belaka tanpa makna. Seperti kelima bangunan kuno ini yang sangat menarik untuk dikunjungi.

1. Benteng Kuto Besak

Sumber: Shutterstock.com

Benteng Kuto Besak dan pelatarannya kerap menjadi salah satu destinasi favorit para turis untuk liburan. Lokasinya yang berada tepat di samping aliran Sungai Musi Seberang Ilir menampilkan pemandangan Jembatan Ampera yang cantik.

Berdiri dengan kokoh nan megah, benteng ini berlokasi di tepi Sungai Musi. Terbuat dari batu yang tingginya 10 meter, Benteng Kuto Besak merupakan bangunan keraton dari abad 18, tepatnya tahun 1724 saat Sultan Mahmud Badaruddin I berkuasa. Dulunya bangunan ini adalah pusat Kesultanan Palembang.

Nah tahukah kamu, sobat tiket? Semen pada bata benteng direkatkan dengan menggunakan batuan kapur dari dalam Sungai Ogan yang dicampur dengan putih telur. 

Mempunyai 3 pintu masuk di 3 penjuru mata angin, kamu dapat memasuki benteng dari pintu sisi timur, barat, juga selatan. Terdapat bastion yang sama bentuknya di setiap pintu-pintu itu sehingga pintu masuknya lebih dikenal dengan sebutan lawang buritan.

Dermaga di benteng ini dikenal dengan sebutan dermaga point. Selain itu terdapat juga dermaga tempat pelabuhan untuk menaiki kapal (disebut ketek oleh warga lokal). Anjungan ini menjadi salah satu spot favorit pengunjung untuk berfoto.

Alamat: Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil, Palembang, Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Waktu Operasional: 24 jam setiap hari.

Harga* tiket masuk: Rp 5.000.

2. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Dari Benteng Kuto Besak, sobat tiket bisa sekalian mampir ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II di lokasi yang sama. Museum ini juga merupakan kekayaan heritage yang ada di Bumi Sriwijaya.

Pada abad ke-19 silam, bangunan ini didirikan di bekas bangunan rumah residen kolonial Sumatera Selatan. Dan kini, museum ini juga berfungsi sebagai gedung dinas pariwisata Palembang.

Di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini, kamu bisa melihat banyak koleksi senjata, kerajinan, tekstil serta busana tradisional dari Sumatera Selatan. Harga kain songket asli Palembang bisa mencapai ratusan juta Rupiah lho, sobat tiket. Ini dikarenakan proses pembuatannya memakan waktu cukup lama, yakni 3 bulan. Selain itu pembuatan kain songket juga melibatkan benang emas. Itulah sebabnya kain songket akan terasa sedikit lebih berat dan tampak bercahaya.

Sedikitnya, terdapat 368 koleksi peninggalan sejarah yang terdiri dari koleksi etnografi, arkeologi dan biologi. Terdapat juga koleksi photo prasasti Kedukan Bukit, patung-patung Buddha kuno serta Amarawati Ganesha, info terkait pengumpulan mata uang (numismatics) dan juga studi serta koleksi mata uang.

Berbagai artefak dari zaman Sriwijaya, seperti patung Ganesha hingga Buddha ditata rapi dalam kebun taman yang terdapat di museum.

Alamat: Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30113.

Waktu Operasional: Buka setiap hari, pukul 08.00-16.00.

Harga* tiket masuk: Rp 5.000. 

3. Cagar Budaya Kampung Kapitan

Sumber: Shutterstock.com

Pemukiman Kampung Kapitan telah dijadikan sebagai salah satu Cagar Budaya oleh pemerintah. Kawasan ini menjadi kampung Tionghoa pertama di Kota Palembang. Sebelumnya, dahulu kala orang Tionghoa yang datang ke Palembang harus rela tinggal di atas rakit di Sungai Musi.

Bermukim di air dengan pola linear, masyarakat etnis Tionghoa dibagi tata letaknya berdasarkan status sosial serta pekerjaan mereka. Lama kelamaan populasi mereka kian membludak hingga mulai membangun rumah panggung di hulu Sungai Musi.

Dari sinilah cikal bakal terbentuknya pemukiman China di 7 Ulu dengan segala perkembangan sarana dan lain-lainnya. Kampung Pacitan ini dulunya juga dikenal dengan sebutan China Town, yang mana secara kultural wilayah ini menjadi simbol perpaduan.

Ya, Kampung Pacitan menjadi simbol perpaduan kultur di Palembang. Mulai dari etnis China, Melayu hingga kebudayaan dari Eropa (Belanda). Menariknya, di sini kamu bisa mengunjungi dua rumah kuno bernuansa oriental dengan 2 kamar kecil dan 4 kamar besar di setiap rumah.

Tepat di bawah rumah tua yang didominasi warna merah ini, terdapat penjara. Beberapa kompas yang diletakkan di pintu serta lambang matahari di sejumlah ventilasinya seolah mengabsahkan bahwa nenek moyang mereka ialah seorang pelaut.

Leluhur pendiri Kampung Kapitan ini konon merupakan keturunan Dinasti Ming pada tahun 1300 serta Dinasti Ching tahun 1600. Sobat tiket yang ingin menikmati eksotisme dan sejarah-budaya etnis Tionghoa pertama di Palembang, wajib banget mengunjungi Kampung Kapitan.

Alamat: Jl. KH. Azhari, Dermaga 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30111.

Waktu Operasional: Buka setiap hari, pukul 08.00 – 17.00.

Harga* tiket masuk: Gratis.

Berwisata Sejarah dan Budaya Banyak Manfaatnya!

Jalan-jalan ke tempat bersejarah bisa menjadi kegiatan seru untuk dilakukan bersama keluarga selama liburan. Ini dikarenakan ada nilai-nilai luhur yang dapat dipelajari si kecil dengan cara yang ringan, fun and playful.

Selain itu, melancong ke destinasi wisata budaya dan sejarah juga dapat mempertemukan kita dengan lebih banyak orang. Indonesia kaya akan keberagaman. Sehingga berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang yang berbeda dapat meningkatkan rasa toleransi terhadap sesama.

Tak ketinggalan, kita tak hanya sekadar memperoleh manfaat rehat dari rutinitas saja. Jalan-jalan sambil wisata budaya dan sejarah juga membuat kita lebih mengenal kearifan lokal yang ada. 

Jadi kebudayaan Indonesia yang kaya warna ini tetap lestari dan tak luntur dimakan zaman. Sehingga bisa kembali diwariskan kepada generasi yang berikutnya. Seru, kan? 

Sobat tiket yang mau jalan-jalan ke Palembang, yuk pesan tiket pesawat ke Palembang di tiket.com sekarang. Mau yang lebih asyik lagi? Ayo coba ajak keluarga dan orang tersayang untuk Menyusuri 3 Pasar Tradisional Palembang, Banyak yang Bisa Kamu Eksplor di Sini!

*Harga saat artikel ditulis