,

Menapaki Sejarah Islam di Pulau Lombok

Lombok memang baru naik daun sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Betapa tidak, di Lombok banyak tempat wisata terkenal sampai ke mancanegara. Sebut saja Gili Trawangan, Pantai Senggigi, atau juga Taman Nasional Gunung Rinjani.

Selain destinasi wisata alam yang eksotik, Lombok juga mempunyai beberapa tempat wisata budaya dan religi. Sebagai salah satu wilayah dengan penduduk mayoritas beragama Islam, Lombok mempunyai beberapa peninggalan budaya Islam dan cagar budaya Islam peninggalan para pengajar agama Islam yang menyebarkan agama tersebut di Lombok.

Makam Batu Layar

Lokasi Makam Batu Layar berjarak sekitar 9 km ke arah utara kota Mataram, Lombok Barat.  Makam Batu layar dianggap keramat oleh masyarakat sekitar dan juga oleh banyak peziarah dari luar Lombok.

Ada yang menyebutkan bahwa makam ini adalah tempat disemayamkannya salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW. Ada juga yang mengatakan bahwa makam tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir tokoh Islam berkebangsaan Baghdad bernama Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami.

Beliau melakukan syiar agama Islam di lombok. Setelah misinya selesai, dia berencana kembali ke negara asalnya, yaitu Baghdad. Saat ia diantar ke pinggir pantai  Batu  layar oleh para muridnya, Syeh Sayid duduk di atas batu yang menyerupai bentuk layar kapal. Tak lama berselang, datanglah hujan lebat disertai angin dan petir.

Di tengah hujan badai itu, Syekh Sayid menghilang. Yang tertinggal hanyalah kopiah dan sorban yang sering ia pakai. Maka itu, konon, yang dimakamkan di Makam Batu Layar adalah kopiah dan sorban Syekh Sayid.

Itu juga sebabnya makam ini kerap digunakan untuk membayar nazar bagi orang yang memohon untuk naik haji atau umroh. Pada musim haji, makam Batu Layar ramai dikunjungi peziarah. Tak cuma peziarah dari Lombok saja, tapi juga dari luar Lombok.

Puncak ramai makam ini adalah pada saat perayaan Lebaran Topat, yakni lebaran yang diselenggarakan tujuh hari setelah Idul Fitri. Pada saat Lebaran Topat yang menjadi tradisi Kabupaten Lombok Barat ini, terdapat berbagai prosesi yang dimaksudkan untuk meminta berkah dari Allah.

Loang Baloq

Loang Baloq, bahasa Sasak, yang berarti “pohon beringin yang berlubang”. Memang, di kompleks pemakaman di  dekat Pantai Tanjung Karang Ampenan, Mataram, itu terdapat pohon beringin besar yang berlubang. Konon, pohon ini sudah berusia ratusan tahun.

Dari puluhan makam yang ada di kompleks tersebut, ada tiga makam yang dikeramatkan. Salah satunya adalah makam Maulana Syekh Gaus Abdurrazak, atau oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Sayyid Tohri,  yang tepat berada di dalam lubang pohon beringin tersebut. Dua makam keramat lainnya adalah Makam Anak Yatim dan Makam Datuk Laut.

Menurut cerita, pada 1866 Sayyid Tohri datang ke Palembang dari Jazirah Arab. Dari Palembang, beliau mendarat di pesisir Pantai Ampenan, Mataram. Di tempat ini, beliau melakukan syiar Islam.

Sampai saat ini, makam Sayyid Tohri masih dikunjungi peziarah. Di tempat ini juga kerap dilangsungkan upacara Ngurisang, yaitu upacara potong rambut anak yang masih balita. Tradisi ini sebagai bentuk syukur sekaligus doa supaya sang anak tumbuh dewasa dan berguna.

Masjid Kuno Bayan Beleq

Disebut kuno karena masjid ini didirikan sejak 300 tahun lalu. Beberapa sumber mengatakan pendiri masjid ini adalah seorang penghulu yang dimakamkan di kompleks masjid tersebut, yang dinamakan Makam Titi Mas Penghulu. Ada juga yang mengatakan bahwa yang membangun masjid Bayan Beleq adalah Sunan Giri, setelah diberi sebidang tanah kosong dari Raja Bayan.

Sumber lain mengatakan bahwa pendiri masjid ini adalah Sunan Prapen (Pangeran Senopati) yang adalah cucu dari Sunan Giri. Meskipun sejarah masjid ini belum begitu jelas, namun banyak keunikan terdapat di masjid ini dan berbagai budaya masyarakat sekitarnya.

Masjid ini hanya berukuran 9×9 meter, berdinding anyaman bambu dan beralaskan tanah liat keras dengan tikar buluh. Atapnya juga terbuat dari bilah bambu. Fondasi lantainya terbuat dari susunan batu kali tanpa semen.

Kini, masjid ini hanya digunakan saat hari besar agama Islam. Pada saat perayaan Idul Fitri, bukan hanya menggelar salat berjamaah pada hari itu, tapi juga tiga hari berturut-turut setelah Idul Fitri, yang disebut Lebaran Adat Tinggi. Ada juga prosesi Serah Ancak, yaitu sumbangan berbagai jenis dari masyarakat secara sukarela. Konon, siapapun yang menyantap makanan Ancak ini, keinginannya akan terkabul.

Wisatawan yang mengunjungi Masjid Kuni Bayan Bele1 harus menggunakan baju adat sasak seperti dodot dan sapuk. Waktu ramai wisatawan adalah pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Masjid Kuno Gunung Pujut

Satu lagi masjid kuno yang merekam sejarah penyebaran Islam awal di Lombok adalah Masjid Kuno Gunung Pujut. Masjid ini terletak di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Ukurannya kecil, sekitar 8,6m x 8,6m, berbahan dasar bambu dan alang-alang. Bangunan ini sudah tidak digunakan sebagai sarana peribadatan, namun tetap dipelihara sebagai monumen syiar agama Islam di Lombok.

Dahulu kala, kompleks bangunan masjid merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Pujut dan merupakan pusat kegiatan ritual bagi penganut ajaran “Waktu Telu”, yang merupakan perpaduan antara kepercayaan animisme, Islam, dan Hindu.

Pada saat pemerintahan Sri Meraja Olem, Pangeran Prapen yang merupakan putra Sunan Giri datang ke wilayah tersebut dan menyebarkan Islam. Sang raja, juga akhirnya menganut Islam dan menyebar luas di wilayah tersebut. Masjid Gunung Pujut didirikan kurang lebih tahun 1.500 M.

Nah, bagi yang tertarik datang Ke Lombok dan berniat mencari tempat penginapan di sana, bisa mencari alternatif hotelnya di sini.