Jalan tunjungan surabaya

,

Liburan ke Surabaya? Jangan Lupa Kunjungi Jalan Tunjungan

Pernah mendengar lagu berjudul Rek Ayo Rek? Kalau begitu, pasti sobat tiket sudah tidak asing lagi dengan Jalan Tunjungan di Surabaya. Salah satu tempat bersejarah di Kota Pahlawan ini memiliki deretan bangunan kuno pada zaman pemerintahan Hindia-Belanda.

Tunjungan berasal dari kata Tunjung (Bahasa Jawa) dengan arti bunga teratai putih. Selain itu, diartikan pula sebagai ujung tombak berbahan dasar logam. Pengertian kedua memang sangat erat dengan perjuangan para pahlawan di kota ini, ya. Mau tahu bagaimana kemeriahan di Jalan Tunjungan sekarang? Berikut ulasan untuk sobat tiket.

Lokasi Jalan Tunjungan

Sumber: Shutterstock

Jalan Tunjungan berada di tengah-tengah wilayah Surabaya sekaligus sebagai penghubung daerah sekitar. Sebut saja permukiman Sawahan, Ketabang, Gubeng, dan Darmo, termasuk area perdagangan di kawasan Kya Kya Kembang Jepun serta Jembatan Merah. Lokasi strategis membuat persimpangan ini dikenal luas oleh masyarakat setempat bahkan dari luar Kota Pahlawan.

Pada zaman pemerintahan Hindia-Belanda, persimpangan ini lebih dikenal dengan nama segitiga emas Tunjungan, karena menjadi sentra bisnis dari tiga wilayah yaitu Embong Malang, Blauran, dan Praban.

Pada titik pertemuan antara Jalan Tunjungan dan Jalan Genteng Kali terdapat sebuah bangunan bernama Gedung Siola. Dari zaman kolonial sampai awal tahun 2000 difungsikan sebagai pusat perdagangan. Namun, pada pertengahan 2015 berubah menjadi Museum Surabaya dan layanan masyarakat.

Tiga wilayah dalam segitiga emas Tunjungan masing-masing memiliki ciri khas pada jenis industri. Misalkan, Blauran terkenal akan pertokoan perhiasan emas. Sementara Praban berjaya dengan perdagangan sepatu, sedangkan Embong Malang menjadi pusat bisnis kreatif seperti biro iklan. Hal inilah alasan mengapa area persimpangan ini merupakan pusat bisnis pemenuh kebutuhan masyarakat setempat, sampai berkembang ke ranah area komersil.

Angkutan Umum ke Jalan Tunjungan

Kalau sobat tiket berangkat dari Terminal Bungurasih, pilihlah bus kota jurusan Jembatan Merah atau Oso Wilangun dengan rute Jalan Darmo. Arah balik kedua transportasi ini pun akan melewati Jalan Tunjungan.

Perbedaan Jalan Tunjungan Dulu dan Sekarang

Sumber: Shutterstock

Jalan Tunjungan sudah ada sejak abad 20 atau sekitar tahun 1930. Dahulu area persimpangan ini terkenal sebagai pusat bisnis dengan bangunan-bangunan bergaya modern. Selain itu, ada pula jejeran tempat penginapan.

Aktivitas perdagangan di Jalan Tunjungan masih berjalan hingga saat ini. Namun, bangunan-bangunan megah telah bermunculan sebagai identitas kota metropolitan. Kalau berkunjung ke sini, sempatkan juga ke Jalan Genteng Besar. Di sana sobat tiket akan dengan mudah menemukan oleh-oleh khas Surabaya.

Sebagai salah satu tempat bersejarah di mana arek-arek Suroboyo (pemuda-pemuda Surabaya) berjuang melawan penjajah, di sini dibangun Monumen Pers. Ada pula dua penginapan; Hotel Tunjungan dan Hotel Majapahit menggunakan arsitektur bergaya klasik untuk mengenang perjuangan tersebut.

Revitalisasi pada Jalan Tunjungan

Sumber: Shutterstock

Pemerintah Surabaya memiliki visi untuk menjadikan persimpangan ini sebagai ruang publik. Hal tersebut ditempuh melalui pelebaran jalan untuk pejalan kaki, perbaikan saluran air, bahkan mengadakan serangkaian acara agar menarik minat wisatawan asing.

Pemerintah Surabaya juga mempercantik Jalan Tunjungan dengan lukisan-lukisan mural. Berbeda dari kawasan Kenjeran Lama, di sini kamu akan melihat gambar-gambar minimalis nan estetik alih-alih mengandung pesan tersirat. Jangan lupa mengabadikan kunjunganmu ke sini dengan latar foto menarik tersebut, ya!

Acara Menarik di Jalan Tunjungan

Untuk menggali potensi wisata, Pemerintah Surabaya menggagas sebuah acara bernama Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan (jalan-jalan ke Tunjungan). Diagendakan setiap satu bulan sekali, durasi pelaksanaan dimulai pukul 15.00 sampai 21.30 WIB.

Tergabung dalam program Pahlawan Ekonomi, sebanyak 250 pelaku usaha kreatif akan memeriahkan acara Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan. Selain menjual oleh-oleh khas Surabaya, aneka kuliner kota ini seperti Lontong Balap pun akan dijajakan. Sebagai pemeriah suasana, komunitas pengamen jalanan dan musik patrol akan menghibur kunjungan sobat tiket.

Mengunjungi acara bulanan ini memang tidak mengecewakan, karena 250 pelaku usaha kreatif tersebut telah memenuhi beberapa syarat seperti menjual produk unggulan dan mengikuti lokakarya tentang laporan keuangan.

Selain hiburan musik dari pengamen jalanan dan patrol, Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan turut dimeriahkan oleh pementasan kesenian tradisional dan tari Yosakai asal Jepang. Atraksi budaya ini dijadwalkan pada pukul 15.00 sampai 17.00 WIB.

Acara Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan digelar sepanjang Gedung Siola sampai Hotel Majapahit. Penutupan akses dimulai pada sabtu dini hari sampai acara selesai. Hal ini sekaligus dimaksudkan sebagai area bebas kendaraan pada minggu pagi.

Kalau sobat tiket membawa kendaraan untuk menghadiri acara ini atau hari bebas kendaraan di Jalan Tunjungan, tempat parkir resmi dari Pemerintah Surabaya berada di sekitar Gedung Siola dan depan Pasar Genteng.

Jalan Tunjungan Saat Ulang Tahun Surabaya

Sebagai salah satu ikon Surabaya, Jalan Tunjungan dilibatkan sebagai tempat perayaan ulang tahun kota ini berlangsung. Beberapa acara diselenggarakan di sini dengan agenda tersendiri mulai Maret sampai Mei.

Mulai 29 April sampai 5 Mei, ada acara Surabaya Fashion Parade di Tunjungan Plaza. Sementara sepanjang Mei digelar Surabaya Shopping Festival di satu tempat perbelanjaan. Kalau sobat tiket ingin merasakan salah satu makanan melegenda kota ini, hadirilah Festival Rujak Uleg pada 17 Maret di Jalan Kembang Jepun, tidak jauh dari Jalan Tunjungan.

Tempat Wisata di Sekitar Jalan Tunjungan

Sumber: Shutterstock

Daya tarik Jalan Tunjungan tidak hanya ada pada bangunan-bangunan bersejarah, pusat perdagangan, pergelaran acara, dan gemerlap lampu pada malam hari. Untuk melengkapi pelesiran sobat tiket, di sekitar sini ada tempat wisata dengan beberapa tema berbeda.

Berjuluk sebagai Kota Pahlawan, tidak lengkap mengunjungi Surabaya tanpa pergi ke tempat-tempat bersejarah. Di sekitar Jalan Tunjungan, ada destinasi Patung Buddha Joko Dolog, Bangunan Grahadi, Monumen Gubernur Suryo, Gedung Balai Pemuda, Monumen Bambu Runcing, Monumen Kapal Selam, dan Monumen Surabaya.

Surabaya sebagai kota metropolitan juga menyuguhkan hiburan bagi masyarakat sekitar atau wisatawan melalui gedung bioskop, Visma Art Gallery, Pasar Genteng, Jembatan Merah Plaza, pusat ponsel WTC, Grand City Surabaya, dan Plaza Surabaya.

Setelah lelah berkeliling, manjakan diri dengan mengjungi spa-spa di sekitar Jalan Tunjungan dengan berbagai kelas tersedia. Kalau sobat tiket ingin merasakan kemeriahan Surabaya hingga larut malam, ada pula kafe dan bar.

Taman Gantung Jalan Tunjungan

Taman Gantung merupakan jembatan penyeberangan antara dua sisi Jalan Tunjungan. Namun, tempat ini memiliki keistimewaan berkat penempatan tanaman-tanaman anggrek di terali pembatas dan tempat duduk. Sebelum memasuki area ini, sobat tiket pun akan disambut oleh mural untuk menggambarkan Surabaya. Kalau kamu ingin melihat nuansa klasik dengan lebih jelas, datang saja ke sini.

Mau Berwisata Alam di Surabaya?

Pelesiran ke Surabaya memang pilihan tepat. Sobat tiket tidak hanya bisa berwisata sejarah, kuliner, dan mencari hiburan, tetapi juga bisa merasakan pesona alam di kota metropolitan. Ada beberapa rekomendasi wisata alam di Surabaya yang bisa kamu kunjungi, misalkan saja Hutan Kota Pakal.

Kegiatan bersenang-senang akan lebih seru kalau mempersiapkan segala akomodasi dengan baik. Sebagai teman liburan terbaik buat kamu, gunakanlah aplikasi tiket.com. Di sini kamu bisa memesan tiket pesawat, kereta api, dan hotel dengan berbagai promo menarik. Mau sewa mobil atau tiket hiburan? Bisa banget! Merencanakan perjalanan dengan tiket.com dijamin anti ribet dan anti kantong jebol. Ayo jalan-jalan, sobat tiket!