,

Kota Tua, Pesona Heritage Ibukota

Sebagai ibu kota dari Indonesia, Jakarta tidak lepas dari perhatian para turis. Jakarta lebih dikenal sebagai jantung perekonomian Indonesia, banyak yang berbondong-bondong datang untuk mencari pekerjaan maupun memulai usaha bisnisnya di sini. Tidak hanya perekonomian, tetapi ibu kota Indonesia ini memiliki sejarah yang tersimpan di dinding-dinding bangunan tua yang tersebar di banyak bagian kota yang menjadi salah satu daya tarik lain dari Jakarta.

Kota Tua

Namanya Kota Tua, sebuah situs bersejarah yang menjadi saksi bisu jaman penjajahan Belanda. Saat ini, Kota Tua menjadi tempat untuk menghabiskan malam minggu dengan berkumpul bersama teman-teman atau pasangan. Beberapa fotografer pun banyak memilih tempat ini untuk menjadi studio outdoor mereka. Kesan klasik yang diberikan menjadikan tempat ini menarik dibandingkan dengan gedung-gedung tinggi yang modern.

Pesona Kota Tua

Dengan luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat, Kota Tua ini pernah disebut sebagai “Permata Asia dan “Ratu dari Timur” oleh pelayar Eropa pada abad ke-16.

Dulunya Kota Jakarta hanya seluas 15 hektar dan bernama “Jayakarta”, nama yang diberikan saat terjadi pertempuran antara Kesultanan Demak dan Kerajaan Pajajaran. Setahun kemudian VOC membangun reruntuhan Jayakarta dan diberi nama “Batavia”. Selanjutnya meluas dari timur Sungai Ciliwing (sekarang Lapangan Fatahillah) sampai ke barat. Gaya bangunannya adalah Belanda Eropa, juga didirikan benteng “Kasteel Batavia”.

http://en.wikipedia.org/wiki/Kota,_Jakarta

Batavia sepenuhnya selesai dibangun pada tahun 1650. Kota ini menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Pada tahun 1942, Jepang mengganti nama Batavia menjadi Jakarta yang masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang. Kota Tua ini akhirnya diresmikan menjadi situs warisan oleh Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, pada tahun 1972.

Yang terkenal dari Kota Tua ini antara lain:

Museum Fatahillah yaitu bangunan yang berfungsi sebagai Balai Kota Batavia (Stadhuis), dibangun tahun 1710. Bangunan ini diresmikan menjadi museus tahun 1974 dengan menampilkan benda-benda dari jaman prasejarah, benda-benda VOC, sampai dengan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1948. Di dalamnya terdapat furnitur dengan gaya Betawi yang pernah ada pada tahun 1700an sampai 1900an. Museum ini terletak di sisi selatan Lapangan Fatahillah

Tak jauh dari Museum Fatahillah ada Museum Seni Rupa dan Keramik. Dulunya museum ini digunakan untuk gedung pengadilan (de Raad van Justitie). Setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan ini sempat digunakan menjadi asrama militer dan sebagai gudang logistik, juga pernah menjadi kantor gubernur, dan kantor dari Museum Jakarta dan departemen sejarah.

http://www.indonesia.travel/id/destination/751/museum-seni-rupa-dan-keramik

http://hallofhira.blogspot.com/2012/06/museum-seni-rupa-keramik.html

Museum ini memajang kerajinan tangan tradisional Indonesia dan lukisan-lukisan oleh Raden Saleh maupun Affandi. Ada juga bermacam-macam keramik dari berbagai daerah Indonesia dan dari luar negeri.

http://en.wikipedia.org/wiki/Wayang_Museum

Selanjutnya ada Museum Wayang, yang didedikasikan untuk pertunjukan boneka Wayang Jawa. Museum ini ada di sebelah barat dari Lapangan Fatahillah. Dulunya bangunan ini adalah sebuah Gereja (Hollandsche Kerk) tempat pemakaman Jendral Jan Pieterszoon Coen. Lalu bangunan ini pernah menjadi Museum Batavia, dan setelah kemerdekaan Indonesia, sempat menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia.

Berisikan berbagai macam wayang seperti wayang kulit dan wayang golek, ada juga boneka-boneka dari Malaysia, Thailand, Suriname, China, Vietnam, Prancis, India dan Kamboja. Terdapat juga satu perangkat gamelan, patung wayang, dan lukisan wayang. Biasanya sering diadakan workshop atau teater wayang di museum ini.

http://indonesialand1.blogspot.com/2011/12/wayang-puppet-museum.html

Jalan lagi, kita sekarang berada di tengah-tengah semua museum ini, Lapangan Fatahillah. Lapangan ini banyak didatangi oleh banyak orang sekedar untuk berkumpul dan melihat-lihat, berfoto, maupun mencoba kuliner khas Betawi.

Kita juga bisa mencoba menaiki sepeda ontel jaman dulu dengan harga dua puluh ribu rupiah untuk tiga puluh menit, cukup menyenangkan karena bisa meminta penyewa untuk menemani jalan-jalan sehingga tidak tersesat. Kita juga mendapat pinjaman topi nona belanda (ambtenaar) yang biasa digunakan oleh pekerja administrasi jaman dulu.

http://arum-palupi.blogspot.com/2012/05/visit-oud-batavia.html

Lapangan ini dikelilingi oleh bangunan bersejarah dengan tugu lapangan Fatahillah ditengah-tengahnya. Dengan sepeda yang disewa, kita bisa mengelilingi seluruh lapangan dan menikmati suasana kuno Jakarta ditemani kerak telor, atau kue rangi, dan berfoto bersama. Terkadang sering ada pertunjukan juga, seperti “si Pawang dan si Bogel” atau “Kuda Lumping”.

http://mostlyjakarta.com/museum-fatahillah-view-of-square-kota-tua-old-town-jakarta/

http://love2travelwritefilm.com/2012/05/17/photo-wednesday-kerak-telor-in-kota-tua/

Ga jauh dari Lapangan Fatahillah, ada stasiun kereta Jakarta Kota. Stasiun Jakarta Kota adalah stasiun kereta api terbesar di Indonesia yang berusia cukup tua. Stasiun ini resmi digunakan sejak tahun 1929. Stasiun yang megah ini merupakan karya besar seorang arsitek bernama Ghijsels yang memadukan struktur dan teknik modern barat dengan bentuk-bentuk tradisional setempat.

http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Jakarta_Kota

Saat ini, stasiun ini ditetapkan sebagai cagar budaya. Stasiun yang merupakan pemberhentian terakhir dari kota Jakarta ini ramai tidak hanya dengan penumpang dan pengunjung, sekarang banyak sekali pedagang yang berjualan di sekitar stasiun dan banyak orang-orang yang membangun rumah mereka di kiri dan kanan rel kereta. Hal ini membuat stasiun ini kurang terawat dengan baik dan benar.

http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Jakarta_Kota

Sedikit berjalan keluar dari kawasan Lapangan Fatahillah, terdapat dua tempat yang menarik untuk dikunjungi. Pertama, kita akan menuju ke museum Bahari.

http://jelajahwisata.blogspot.com/2011/03/blog-post_16.html

http://mykomodoisland.blogspot.com/2010/08/museum-bahari-national-maritime-museum.html

Bangunan yang berumur tiga setengah abad itu dulunya merupakan gudang rempah-rempah yang digunakan oleh pihak VOC, dan menjadi pusat perniagaan penting. Banyak kapal yang hilir-mudik mengangkut rempah-rempah dari Indonesia menuju Eropa.

http://reezkeey-aninditha.blogspot.com/2010/04/museum-bahari-on-saturday.html

Di dalamnya terdapat belasan perahu asli dan  puluhan miniatur perahu seperti perahu kecil tradisional, sampai ke perahu nenek moyang kita, Perahu Phinisi. Dari kapal tradisional sampai ke kapal mesin. Berikut ini beberapa cuplikan dari isi museum Bahari:

http://reezkeey-aninditha.blogspot.com/2010/04/museum-bahari-on-saturday.html

http://www.museumbahari.org/indexpengunjung.php

Di sebelah dari museum Bahari ini ada sebuah menara pengawas, sejenis mercusuar kuno.

http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/12/02/06/lyyaey-jelajah-sisi-utara-jakarta

Menara Syahbandar atau Uitkijk dalam Bahasa Belandanya dibangun tahun 1839 yang digunakan sebagai menara pemantau untuk kapal-kapal yang keluar masuk Batavia dan sebagai kantor pajak atas barang-barang yang dibongkar di pelabuhan Sunda Kelapa.

Colonial Architecture in Jakarta

Dengan tingginya 12 meter dan luasnya 4×18 meter, dan umurnya yang tua, kemiringan bangunan ini berubah. Banyak orang menyebutnya sebagai Menara Miring atau Menara Goyang karena ketika truk berbeban berat lewat tepat di sebelah menara ini, menara ini akan terasa bergoyang.

Pandangan Dari Menara Syahbandar

http://intaneryska.blogspot.com/2013/07/menara-syah-bandar-beraksitektur.html

Sebagai bekas benteng, bangunan dengan 3 lantai ini masih memiliki ruang bawah tanah yang digunakan sebagai tempat perlindungan, penjara, dan terowongan. Sebelumnya terowongan ini merupakan salah satu jalur menuju ke Fatahillah sampai Benteng Frederik Hendrik, sekarang Masjid Istiqlal. Namun sekarang terowongan tersebut telah di tutup.

by Octavia George