Sumber: Shutterstock.com

,

Ayo Jelajahi 3 Desa Wisata yang Terkenal di Pulau Bali

Desa Wisata di Bali – Sebagai salah satu destinasi pariwisata di Indonesia, Bali tak hanya diburu oleh turis domestik untuk liburan. Setiap tahunnya, ratusan ribu wisatawan mancanegara dari berbagai belahan dunia datang berkunjung ke Pulau Dewata.

Popularitasnya kian menanjak setelah Barack Obama, Presiden ke-44 Amerika Serikat dan keluarga sempat menghabiskan waktu liburan mereka di Bali, 2017 lalu.

Pesona Pulau Seribu Pura ini memang seakan tak ada habisnya. Selain keindahan pantainya yang magis dan menghipnotis, ada banyak pura kuno nan megah yang mengandung banyak kisah sejarah.

Bahkan beberapa wilayah di Bali pernah menjadi lokasi syuting dari film Eat, Pray, Love (2010) yang dibintangi oleh aktris kenamaan Julia Roberts.

Kearifan Lokal yang Unik di 3 Desa Adat Bali

Seolah itu belum cukup, beragam desa di Bali juga menyimpan adat istiadat dan keunikannya tersendiri. Sejumlah tradisi dan budayanya yang diwariskan turun-temurun hingga kini masih tetap lestari. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan sejumlah desa adat yang menjaga kearifan lokal setempat.

Menariknya lagi, modernisasi tak membuat Bali kehilangan jati diri. Sejumlah desa-desa adatnya hingga kini masih berdiri, melestarikan tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya.

1. Desa Penglipuran

Sumber: Shutterstock.com

Penglipuran yang diambil dari kata “Pengeling Pura” mempunyai makna tersendiri yang berarti “tempat suci untuk mengenang para leluhur”. Walaupun sinar matahari cukup terik, namun desa ini masih tetap berhawa sejuk karena berada di ketinggian 700 mdpl.

Selain udaranya bersih, desa yang fotogenik ini juga kerap menjadi lokasi syuting berbagai judul film televisi (FTV). Di wilayahnya yang seluas 112 hektar ini, tak ada satu pun kendaraan bermotor yang diizinkan untuk masuk. Semua wajib diparkirkan di area dekat gapura masuk.

Lingkungannya yang bersih, cantik dan asri juga dihiasi oleh beraneka bunga yang ditanam oleh warga. Sejauh mata memandang, jalanan dan rumah dipercantik dengan bunga mawar, kembang sepatu, bugenvil dan kamboja.

Desa Penglipuran yang pernah menyandang penghargaan Kalpataru ini juga menjadi desa ke-3 di dunia terbersih di dunia versi Majalah Internasional Boombastic. Sebagian besar lahannya difungsikan untuk wilayah perkebunan warga.

Sementara itu, 9 hektar dari kawasannya digunakan untuk rumah dan pemukiman masyarakat. Penglipuran mempunyai arsitektur bangunan yang dibangun khas berdasarkan Tri Hita Karana.

Berada di lanskap yang miring, setiap rumah di sini mempunyai pintu masuk bernama angko-angko yang serupa. Angko-angko ini terbuat dari tanah liat.

Yang menarik, setiap nama pemilik rumah beserta anggota keluarganya dituliskan di papan yang ada di pinggir angko-angko. Dan setiap wisatawan yang datang diperbolehkan masuk ke satu per satu rumah warga.

Desa Penglipuran Bangli yang sangat welcome untuk wisata budaya ini terletak di jalur wisata Kintamani, Kecamatan Bangli, Bali atau sekitar 53 kilometer dari Pantai Kuta Bali. Sedangkan akses dari pusat Kota Denpasar yakni sekira 45 kilometer. Nah sobat tiket, kapan kamu mau main ke sini?

Alamat: Jl. Penglipuran, Kubu Kabupaten Bangli, Bali

Harga* tiket masuk:

  • WNI Dewasa: Rp15.000 per orang.
  • WNI Anak: Rp10.000 per orang.
  • WNA Dewasa: Rp30.000 per orang.
  • WNA Anak: Rp25.000 per orang.
  • Parkir mobil: Rp5.000 per mobil.

2. Desa Tenganan

Sumber: Shutterstock.com

Salah satu desa lainnya yang adat dan kekentalan budayanya masih terjaga ialah Desa Tenganan. Tenganan dikenal sebagai satu-satunya penghasil kain tenun Gringsing yang mendunia.

Di desa yang dijuluki Tenganan Pegringsingan Village ini, sering juga diadakan upacara adat yang selalu menarik perhatian wisatawan. Adapun nama desa ini berasal dari kata “Tengah” atau “Ngatengahan”, yang makna filosofisnya berarti “bergerak ke daerah yang lebih dalam”.

Sama seperti di Desa Penglipuran, Desa Tenganan ini juga dihuni oleh Kaum Bali Mula atau Bali Asli (Bali Aga). Mereka adalah penduduk lokal setempat yang pertama kali mendiami Pulau Dewata—sebelum warga dari Pulau Jawa dan pendatang lainnya masuk (Bali Jawa).

Perbedaan signifikan juga tampak dari cara mereka menyikapi upacara kematian. Bali Jawa memilih untuk membakar jenazah orang yang meninggal. Padahal Kaum Bali Mula tidak demikian, mereka menguburkannya.

Sehari-hari, penduduk setempat senantiasa mengikuti aturan hukum adat yang sudah tertulis sejak abad 11. Diperbarui pada tahun 1842, hukum adat setempat ini dinamakan Awig-Awig.

Uniknya lagi, setiap rumah masih dibangun dari campuran batu sungai dan batu merah yang berukuran sama. Tak jauh dari Tenganan, kurang lebih 10 meter dari sini, terdapat Candi Dasa dan Pantai Candidasa yang memuat banyak cerita dan sejarah.

Cara memasuki desa agrowisata ini pun terbilang unik. Setelah melewati sebuah loket dan memberikan sumbangan sukarela, turis akan dipersilakan melalui gerbang sempit. Gerbang ini hanya cukup dilewati satu orang.

Di pertengahan Juli, tradisi mageret pandan (perang pandan) kerap digelar tiap tahunnya. Tradisi ini merupakan ritual pemuda desa yang saling sayat dengan menggunakan duri dari daun pandan.

Luka bekas sayatan yang dihasilkan di punggung kemudian diobati dengan obat antiseptik tradisional dari bahan umbi. Tradisi ini digelar untuk melatih fisik dan mental warga desa Tenganan. Biasanya, akan ada banyak fotografer yang datang meliput ritual ini.

Kawasan Karangasem juga terkenal dengan wisata kuliner berupa makanan laut buah salak dan beraneka olahan. Yang dikenal sebagai oleh-oleh khas Karangasem ialah wine salak, keripik salak, dodol salak, asinan salak, sampai madu salak.

Bagaimana akses menuju ke Desa Tenganan? Dari Bandara Ngurah Rai, sobat tiket bisa sampai di desa ini setelah melalui perjalanan selama satu jam.

Alamat: Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, 60 kilometer dari timur Denpasar.

Harga* tiket masuk: Donasi Rp10.000 per orang.

Parkir kendaraan: Rp5.000 per mobil.

3. Desa Pelaga

Sumber: Shutterstock.com

Desa Pelaga dikenal dengan alam yang asri khas pegunungan. Selain itu terdapat area kebun bunga gemitir yang terhampar luas dengan cantiknya. Sejak tahun 2013, kebun bunga berwarna kuning cenderung oranye ini membuat hawa sejuk di sekitar terasa kian syahdu.

Bunga gumitir kerap digunakan untuk sesi peribadatan umat Hindu Bali. Selain itu, berbagai jenis buah-buahan, kopi, dan sayuran kerap ditanam sebagai komoditas desa.

Lokasi kebun berada di pinggir jalan utama dan dapat diakses dengan mudah. Dengan harga tiket masuk kebun Rp5.000 per orang, obyek wisata ini banyak diminati wisatawan. Karena bernuansa Instagrammable, banyak pendatang yang berburu foto casual hingga prewedding di sini.

Di Pelaga ini kamu akan menemukan jembatan yang diklaim sebagai tertinggi di Asia Tenggara, yakni 71,14 meter dan fondasi yang tertancap ke bawah tanah sedalam 41 meter. Bernama Jembatan Tukad Bangkung, lokasinya berada di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.

Kalau sobat tiket mampir ke Bali, jangan lupa melipir ke sini dan nikmati sensasi melihat panorama sejuknya pegunungan dari Jembatan Tukad Bangkung. Tak hanya menjadi yang tertinggi se-Asia Tenggara, jembatan ini juga merupakan yang terpanjang di Bali dengan lebar 9,6 meter dan panjang 360 meter.

Cara menuju ke desa ini pun terbilang mudah. Dari Denpasar, kamu hanya perlu berkendara ke arah utara selama satu jam. Pepohonan tampak rindang di kanan kiri jalan. Hawa sejuk yang segar  pun akan menyambutmu setiba di Kecamatan Petang.

Sobat tiket yang mau ke sini, jangan lupa kenakan jaket dan sweater karena hawa dinginnya bisa terasa menusuk tulang saat memasuki sore hari.

Alamat: Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali.

Wisata Budaya Bikin Rasa Penasaran Jadi Terpuaskan

Selain untuk refreshing, berwisata budaya juga bisa memuaskan rasa penasaranmu. Kamu bisa menyaksikan dan mempelajari berbagai kearifan lokal dan menambah luas wawasanmu. 

Jadi buat sobat tiket yang tertarik wisata budaya ke Bali bisa langsung pesan tiket pesawat dari tiket.com sekarang. Ada berbagai pilihan tiket dari beragam maskapai dengan harga yang bersahabat lho. Dijamin deh bikin momen vacation jadi tambah menyenangkan! 

Dan bagi kamu yang ingin liburan seru ke Bali dengan hemat, yuk cek juga 10 Rekomendasi Penginapan di Bali yang Ramah di Kantong ini.

*Harga saat artikel ditulis