,

Nonton Festival Budaya di Bangka Belitung, Kuy!

Kalau sobat tiket jalan-jalan ke suatu daerah nih, biasanya apa sih yang dicari? Wisata alamnya? Tempat-tempat romantisnya? Kelezatan kulinernya? Pernah nggak, kamu bepergian ke suatu tempat karena ingin tahu lebih dalam tentang budayanya?

Sayangnya, tujuan terakhir itu masih jarang banget ada di pikiran wisatawan. Padahal, wisata budaya itu nggak kalah serunya kok dengan wisata-wisata lainnya. Justru, kamu bisa dapat banyak ilmu yang pastinya bermanfaat.

Mengulik Sisi Lain Bangka Belitung Lewat Festival Budaya

Setiap wilayah pasti punya budaya, tradisi, adat, atau apalah namanya, sebagai nilai luhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Meski zaman sudah bergerak pesat, nyatanya masih tetap bisa kamu temukan. Di balik ingar bingar suasana modern, kehidupan yang begitu damai dan erat dengan nuansa tradisional.

Kali ini, sobat tiket akan diajak untuk mengikuti festival budaya di Bangka Belitung, kawasan kecil di Pulau Sumatra. Melalui gelaran budaya ini, kamu mungkin bisa menemukan sisi lain dari Bangka Belitung yang tak lagi mudah dijumpai. Kuy, kita mulai jalan-jalannya!

1. Tari Perang Ketupat yang Erat dengan Nuansa Mistis

Sepertinya, seni tari sekarang sudah sangat sulit dijumpai, ya? Generasi muda kini sangat sibuk dengan kemajuan dunia, melupakan apa yang dahulu menjadi kebiasaan dan ciri khas wilayahnya. Seperti tari misalnya.

Namun, uniknya, setiap sisi Indonesia itu punya tarian khas, tersebar dari ujung Sabang hingga ke penjuru Merauke. Sebut saja Tari Perang Ketupat yang menjadi salah satu identitas budaya Bangka Belitung. Tarian ini berasal dari Tempilang, salah satu kota yang berada di wilayah Bangka Belitung. 

Tugu Ketupat menjadi ikon dari awal mula Tari Perang Ketupat, tarian yang selalu digelar setiap minggu ketiga bulan Sya’ban. Sebelum dimulai, digelar ritual Penimbongan yang dilakukan oleh tiga dukun kampung dengan tujuan memberi sesaji pada ‘penjaga’ Kampung Tempilang. 

Setelahnya, dilakukan ritual Ngancak yang bertujuan untuk memberi sesaji pada ‘penjaga’ laut Kampung Tempilang. Lalu, esoknya, digelar Perang Ketupat dengan iringan lagu Timang Burong. Ketupat akan diletakkan di tengah arena, sementara tim yang berperang terbagi menjadi dua. 

Setelah membaca doa dan mantra, tarian pun dimulai dengan saling melempar ketupat dari masing-masing kubu. Semakin lama, tarian semakin panas hingga akhirnya sang dukun lalu memberi aba-aba untuk berhenti. Para penari pun berhenti dan saling merangkul. 

2. Peh Cun, Festival Budaya Masyarakat Tionghoa di Bangka Belitung

Sumber: Shutterstock.com

Peh Cun adalah festival budaya Bangka Belitung berikutnya yang harus kamu saksikan. Tradisi ini datang dari bangsa Tionghoa dan selalu digelar setiap hari kelima bulan kelima dalam kalender Cina. Ada banyak nama yang disematkan, seperti Festival Dumpling dan Festival Perahu Naga. 

Tradisi Peh Cun sendiri digelar bukan tanpa alasan, lho. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada Dinasti Cuow yang begitu terkenal di abad sekitar 340 SM. Tidak lain tidak bukan untuk menghormati seorang bangsawan bernama Qu Yuan yang begitu dicintai rakyat semasa hidupnya.

Di Bangka Belitung, setiap tahunnya Peh Cun diadakan di Pantai Pasir Padi yang ada di Pangkalpinang. Prosesi dimulai dengan sembahyang, lalu dilanjutkan dengan membuang kue chang ke laut. Kue chang ini dibuat dari ketan dengan isi udang atau daging. 

Ada lagi keunikan lainnya, sobat tiket kabarnya bisa membuat telur ayam mentah berdiri sempurna ketika perayaan Peh Cun. Pun, air laut di Pantai Pasir Padi akan mengalami puncak fenomena pasang surut yang langka, yaitu sejauh 1 kilometer. 

3. Beripat Beregong, Tarian untuk Mempererat Silaturahmi

Nggak boleh ketinggalan, sobat tiket juga harus nonton tarian Beripat Beregong. Tarian ini terbilang unik, karena para penari laki-laki akan saling memukul dengan menggunakan rotan. Pemenangnya ditentukan dari penari yang paling sedikit mendapatkan bekas pukulan. 

Tarian yang bertema permainan ini dipimpin oleh dukun kampung yang dibantu dua orang juri, masing-masing bertugas untuk memisahkan penari dan mencatat pukulan yang berhasil dibuat masing-masing pemain. Festival tari ini digelar pada malam hari, lho, supaya lebih seru pastinya. 

Sebelum memulai, penari akan bertelanjang dada dan menggunakan ikat kepala sebagai pelindung. Aturan mainnya sederhana, para penari harus saling pukul. Tidak boleh mengecoh atau menyerang bagian kepala dan pinggang hingga ke bawah.

Masing-masing penari akan mendapatkan rotan dengan ukuran panjang yang sama. Lalu, rotan akan dibasuh dengan air yang sudah dijampi, katanya untuk mengurangi rasa sakit pada penari ketika terkena pukulan nantinya. 

4. Lesong Panjang, Tarian Menyambut Musim Panen

Masih seputar tarian tradisional, Bangka Belitung juga punya Lesong Panjang, tarian yang dilakukan menyambut kedatangan musim panen. Tarian ini dilengkapi dengan lesung yang panjangnya mencapai 15 meter dengan diameter hingga 30 sentimeter. 

Lalu, sebagai pemukulnya, penari akan menggunakan alu dengan panjang sampai 120 sentimeter dan diameter maksimal 6 sentimeter. Modelnya beragam, disesuaikan dengan keinginan para penari. Nantinya, alu akan diketukkan pada lesung secara bergantian sehingga menciptakan irama tertentu. 

Melakukannya tidak mudah, lho, sobat tiket, karena kalau alu dipukulkan sembarangan, jadinya justru alu ini akan saling bertabrakan. Iramanya tentu jadi nggak karuan. Nah, irama ini juga ada ceritanya. Katanya, semua yang dikerjakan sama-sama atau gotong royong akan memberikan hasil lebih baik.

Sementara itu, gerakan tarian yang dilakukan sambil mengelilingi lesung ini artinya masyarakat Bangka Belitung saling mengisi dan ketergantungan satu dengan lainnya. Lalu, lagu yang dinyanyikan sebagai iringan itu adalah bentuk rasa syukur masyarakat pada Tuhan YME.

5. Opera Dul Mulok dari Syair Lama

Festival budaya Bangka Belitung yang terakhir yang wajib kamu saksikan adalah Dul Mulok. Festival ini lebih mengarah pada pentas drama atau opera, ceritanya tentang syair-syair lama, seperti Syaer Juragan Budiman, Syaer Abdul Mulok, Syaer Mabi, dan Syaer Siti Zubaida. 

Dalam pelaksanaannya, opera ini diiringi oleh musik dari gendang panjang dan biola, atau piul dalam bahasa lokalnya. Pentas drama ini sendiri pertama kali dikenalkan oleh masyarakat di Desa Kembiri, Bangka Belitung.

Ceritanya bermula dari Tok Juhek yang sangat pandai bersyair pada tahun 1940 silam. Kepandaiannya membuat Tok Juhek ingin syairnya dipentaskan. Syair pertama yang berhasil dipentaskan adalah Syaer Abdul Mulok, dan masih terus ditontonkan pada wisatawan hingga kini. 

Sudah Wisata Budaya, Jangan Lupa Belanja

Bagaimana, sudah puas menonton festival budaya di Bangka Belitung? Supaya jalan-jalannya semakin kece, jangan lupa belanja, ya! Ada banyak benda unik yang bisa sobat tiket jumpai di Bangka Belitung, salah satunya hasil kerajinan tangan dari timah di Pewter TKF

Tapi, sobat tiket jangan sampai lupa untuk pesan tiket pesawat dan akomodasi menginap. Kalau musim budaya, Bangka Belitung ramai banget sama wisatawan. Bisa-bisa kamu nggak kebagian tiket dan hotel. 

Jadi, kalau sudah ada rencana mau nonton festival budaya di Bangka Belitung, langsung aja pesan tiket pesawat dan booking hotel di tiket.com. Ada banyak promo dan penawaran menarik yang menanti, lho!