Festival Bau Nyale

, ,

Festival Bau Nyale, Antara Budaya Dan Mitos Penanda Musim

Lombok. Sebuah pulau kecil di timur Bali ini memang masih belum bosan untuk menghasilkan pesona. Seakan tenggelam dengan popularitas Pulau Bali yang juga tetangga terdekatnya, nama Pulau Lombok memang pernah lama luput dari telinga banyak turis. Bahkan dari turis lokal sekalipun. Namun, Lombok kini sudah jauh berbeda. Bukan hanya semakin cantik, tapi juga semakin memunculkan berbagai daya tarik yang bisa jadi belum kamu ketahui.

Mungkin beberapa dari kita tahu betapa kurang beruntungnya kita saat pergi mengunjungi Lombok di awal tahun. Ya, sama seperti sebagian besar daerah di Indonesia, awal tahun merupakan puncak dari musim hujan. Hal itu pastinya membuat kita tidak bisa menikmati alam Lombok karena di periode tersebut hujan deras kerap turun dan menutupi keindahan panorama Lombok. Namun, ada hal menarik lainnya yang tetap bisa kamu temui saat kamu mengunjungi Lombok di awal tahun. Sebuah keindahan yang mungkin bisa membuatmu mengenal Lombok lebih dekat.

Tradisi Tahunan Khas Lombok Itu Bernama Festival Bau Nyale

Sobat Tiket, pernah mendengar Festival Bau Nyale? Di Lombok, ada sebuah perayaan besar penuh dengan budaya dan tradisi. Tidak hanya perayaan budaya, festival ini juga menjadi sebuah rangkaian tradisi yang telah dilakukan secara turun-temurun oleh Suku Sasak, penduduk asli Pulau Lombok. Nama Bau Nyale sendiri diambil dua kata dalam Bahasa Sasak. Bau berarti menangkap, sedangkan Nyale adalah sebutan untuk cacing laut yang hidup di bawah permukaan laut. Ya, secara keseluruhan memang festival ini adalah sebuah acara menangkap cacing laut. Namun, bukan sembarang menangkap cacing, melainkan sebuah tradisi yang berawal dari sebuah legenda.

Kontes Puteri Mandalaika
Kontes Puteri Mandalika. Sumber

Tahun ini, Festival Bau Nyale diselenggarakan pada tanggal 16-17 Februari 2017, tepatnya di Pantai Seger. Lalu, dari mana festival ini berawal? Konon, dahulu kala di sebuah kerajaan di Lombok, ada seorang putri yang sangat cantik bernama Putri Mandalika. Saking cantiknya, putri ini menjadi rebutan banyak pangeran saat itu. Namun, sang putri menolak diperebutkan dan memilih menceburkan diri ke laut untuk kemudian berubah menjadi “Nyale”. Hal itulah yang kemudian mendasari tradisi mencari cacing laut di festival ini. Sebuah tradisi yang berawal dari rasa cinta dan hormat.

Dari Tradisi, Budaya, Hingga Penanda Pergantian Musim

Cerita Putri Mandalika tersebut pula yang mendasari hadirnya berbagai tradisi dan kebudayaan lainnya dalam festival ini. Sebut saja seperti kontes pencarian Putri Mandalika, sebuah kontes yang mirip ajang putri kecantikan. Di dalam kontes ini, semua pesertanya adalah remaja putri yang cantik dan berasal dari seluruh pelosok Lombok. Ada pula penampilan dari kesenian Gendang Beleq, sebuah keseninan berupa gendang besar nan nyanring yang konon digunakan sebagai pengiring prajurit untuk berperang. Tidak ketinggalan pula penampilan dari para jagoan Stick Fighting, sebuah budaya seni bela diri khas suku Sasak. Khusus untuk Stick Fighting, tradisi ini biasanya dilombakan dalam setiap perayaan Festival Bau Nyale.

 

beleq
Gendang Beleq. Sumber

 

stick 2
Stick fighting. Sumber

Namun Sobat Tiket, terlepas dari semua keindahan yang dihadirkan melalui rangkaian tradisi dan budaya, ada hal lain yang tidak kalah unik dari Festival Bau Nyale. Tahukah kamu, percaya atau tidak, Festival Bau Nyale juga kabarnya bisa menjadi acuan perubahan musim bagi warga Lombok. Menurut informasi yang pernah tim Tiket.com dapat ketika mengunjungi Lombok setahun lalu, hadirnya Festival Bau Nyale juga kerap digunakan sebagai acuan berhentinya musim penghujan di tanah Lombok. Menurut mereka, biasanya setelah Festival Bau Nyale selesai, intensitas hujan di Pulau Lombok cenderung berkurang. Tidak hanya itu, cuacanya pun turut berubah menjadi lebih cerah.


Nah Sobat Tiket, keindahan Pulau Lombok melalui Festival Bau Nyale adalah segelintir pesona yang bisa kamu banggakan dari negeri ini. Mau jelajah nusantara lebih dalam? Pakai Tiket.com, bisa!